Di Bandara Incheon, Menuju Pulang

Sabtu, Juli 29, 2017

Masih jelas di ingatan ketika saya menyeret koper seberat 23 kilogram di bandara Soekarno-Hatta. Koper hampir setengah berat badan saya itu berisi perlengkapan untuk 2,5 bulan tinggal di Seoul, Korea Selatan. Juga titipan kakak saya yang tinggal di sana. Mendekati pukul 8 malam, saya sudah di counter check in bagasi. Sibuk mengemas ulang koper karena beratnya yang ternyata kelebihan. Pusing. Saya baru bisa duduk dan beristirahat dengan tenang setelah melewati imigrasi dan duduk di boarding room.

Di sana, sudah ada penumpang-penumpang yang kebanyakan asal Korea Selatan. Maklum, saya memang naik maskapai penerbangan asal negeri ginseng itu, bukan maskapai Indonesia seperti sebelumnya. Ketika saya masuk boarding room, hanya saya satu-satunya warga Indonesia. Terasa sedikit tidak nyaman. Lucu ya, bagaimana sebuah ruangan bisa langsung menciptakan suasana berbeda. Di balik pintu itu, semuanya masih terasa familiar dan saya bisa mengenali semuanya. Tapi begitu masuk ke boarding room, rasa asing dan kesepian langsung menghinggapi. Padahal, masih di negeri sendiri.

Untuk mengalihkan perhatian, saya membuka handphone. Mengetik status di Path dan membalas pesan seseorang di Whatsapp. Nadanya serupa: tentang kesedihan saya yang meninggalkan Jakarta selama 82 hari. Saya merasa sedikit berlebihan, sih. Perginya tidak lama. Cuma hampir tiga bulan. Tapi entah mengapa rasanya berat sekali meninggalkan Jakarta kali ini. Padahal, biasanya saya malah seneng kalo ke luar dari kota yang padat itu untuk sementara. Saya anggap refreshing. And travel always makes me feel alive.

Bagi saya, pergi tidak pernah sulit. Sebab, nothing left in Jakarta. Tidak ada orang tua yang menanti di rumah. Tidak pula pekerjaan, karena saya sudah berhenti dua minggu sebelumnya. Tapi, di waktu yang bersamaan, saya baru saja menjalin hubungan dengan seseorang. Mungkin itu yang menjadi sedikit bahan pikiran. "Will this LDR thing works?". 

Khawatir ada, tapi seharusnya hal itu juga tidak bisa dijadikan alasan. Sebelumnya saya pernah LDR selama empat tahun, and it worked. Dua setengah bulan tentu saja tidak ada artinya dibanding dengan tahun-tahun itu, iya kan? (Hint: it didn't work. Mungkin, beberapa orang memang diciptakan untuk tidak bisa berkomitmen).

*****

Dua setengah bulan berjalan lama dan cepat bagi saya. Lama di awal kedatangan di Seoul, namun terasa cepat di minggu-minggu terakhir kepulangan. Banyak pelajaran yang diambil. Melihat bagaimana warga Seoul hidup, menjadi minoritas dan tidak tahu apa-apa (kesulitan menjawab ketika disapa orang Korea, sering nyasar karena susah baca hangeul), tapi jadi lebih tahu bagaimana mengurus anak. Semakin sadar bahwa menjadi orangtua perlu persiapan matang dan merawat anak tidak semudah yang dibayangkan. Anak adalah tanggung jawab, maka sebaiknya ketika ingin memilikinya, pastikan sudah siap lahir batin.

Juga belajar menerima kenyataan bahwa orang yang saya anggap baik hatinya, ternyata justru jadi yang paling menyakiti hanya dalam waktu dua bulan. I broke my walls for this one person because I thought he was the best and different -- but turns out, he is the same and even the worst. Ini pelajaran untuk tidak lengah lagi ke depannya. Saya akan menjaga diri (dan hati) lebih baik lagi.

Saya menikmati hidup di sana karena kotanya yang rapi. Dan ramah untuk pejalan kaki. Saya bisa tenang jalan di trotoar sambil dorong stroller bayi tanpa takut terserempet mobil. Kota ini juga ramah untuk warganya -- mulai dari transportasi yang serba cepat, tanpa macet, hingga taman-taman kota yang nyaman. Saya bisa duduk berjam-jam baca buku di taman; anak-anak bisa main perosotan atau ayunan dengan riang sampai tidak mau pulang.

Tapi, saya juga tersiksa ketika rindu datang. Baca berita tentang dua perempuan yang bertengkar di kereta, saya jadi kangen berdesakan di commuter line Bekasi - Jakarta Kota. Lihat teman-teman yang berfoto dengan bunga-bunga untuk Ahok di Balai Kota, saya juga ingin selfie di sana. Mendapat pesan dari sahabat-sahabat yang merencanakan buka bersama, saya iri setengah mati karena tidak bisa bergabung. Saya rindu Transjakarta, sate padang, bubur ayam, siomay, angkringan depan rumah, and strolling around Jakarta.

Hmmm, manusia memang begitu, tidak pernah puasnya. Dan rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau kalau tidak pernah bersyukur atas apa yang dipunya. 

*****
Kini, lagi-lagi saya merenung di bandara. Di tengah orang-orang Korea yang tidak saya kenal. Bedanya, kali ini saya menunggu di bandara Incheon, menuju pulang. 

Saya coba memikirkan ulang semuanya dan......saya bersyukur bisa menghabiskan waktu di Seoul beberapa bulan belakangan. Mungkin ada yang hilang dan dikorbankan, tapi bagaimanapun juga, saya tidak akan pernah mau menukar pengalaman ini dengan apa pun. Saya tidak akan mau menukar kenangan bermain bersama keponakan-keponakan saya -- mulai dari bangun tidur sampai malam -- dengan kencan-kencan bersama dia di Jakarta. Saya tidak akan menukar perlakukan manis nan lucu ketiga keponakan saya hanya dengan drama percintaan.  

Lagipula, saya teringat kutipan yang bilang: "The people that belong in your life will come find you and stay,". Kalau dia memilih pergi, ya silahkan. Saya sama sekali tidak menyesal telah mengambil keputusan pergi ke Korea dalam kurun waktu (yang menurut dia lama). Family always comes first. Saya bahagia bisa membantu merawat, menjaga dan menjadi teman untuk keponakan saya.

Maybe, i lost one, but hey, i got more love from the three #blessed :)

yang selalu heboh diajak foto haha
<3 td="">



You Might Also Like

0 comments