Singkat

Rabu, Mei 31, 2017

Saya tahu hidup hanya sementara. Saya tahu semua orang pasti akan mati. Tapi, kapan dan bagaimana kita akan pergi, cuma Tuhan yang tahu. Dan saya, terkadang suka lupa bahwa waktu yang dipunya bisa jadi sangat singkat.


Belum lama ini, teman saya meninggal dunia. Kami cukup dekat semasa SMA, sering main bareng, bercanda sampai nangis juga pernah. Namun, semenjak masuk kuliah, hubungan semakin merenggang. Beberapa kali sempat bertanya kabar sebelum akhirnya benar-benar hilang kontak -- hingga tidak lagi saling mencari. 

Kami punya kehidupan masing-masing yang (mungkin) lebih menyenangkan. Jadi yaudah saya berpikir, "ah nanti juga bisa ketemu lagi". Mungkin pas acara buka bersama, reunian sekolah, atau acara pernikahan dia.

Namun, ternyata, 'nanti' itu nggak akan pernah ada. Setelah hilang kontak bertahun-tahun, kabar pertama yang saya dengar tentang dia bukan tentang ajakan bertemu -- tapi justru kebalikannya. Kenyataan bahwa saya tidak akan bisa bertemu lagi dengan dia. Teman saya ini sudah pergi untuk selamanya.

Sama seperti respons untuk semua kehilangan yang pernah dialami, saya awalnya nggak percaya. Masih kaya mimpi dan seolah-olah tidak ada apa-apa. Baru sehari setelahnya otak saya akhirnya bisa menerima informasi itu dan berakhir dengan nangis tanpa suara.

Sebenarnya, saya tidak tahu tangisan itu untuk apa. Di satu sisi, saya sedih karena nggak bisa ketemu dia lagi untuk selamanya. Namun, rasa sedihnya jauh lebih besar ketika mengingat waktu-waktu yang hilang di masa kuliah kami. Saya menyesal kenapa tidak coba menanyakan kabarnya lagi. Atau memaksanya bertemu ketika dia mulai menjauh.


Kesalahan utama memang berpikir bahwa kita memiliki banyak waktu. Lalu, jadi menggampangkan segalanya.

I'm so sorry, Ka.

You Might Also Like

0 comments