Karena Saya Menabung Untuk Traveling

Rabu, Maret 29, 2017

Traveling terus = banyak uang? Kalau untuk saya sih, jawabannya nggak wkwkwk.
Tahun ini, target jalan-jalan saya lagi banyak banget. Dan dalam waktu yang berdekatan pula. Hal itu saya lakukan mengingat umur yang semakin bertambah, tapi masih banyak tempat yang belum kesampaian untuk dikunjungi. Mumpung masih sendiri, saya pun akhirnya memutuskan untuk menuhin bucketlist traveling saya satu per satu mulai tahun ini.
Banyak orang yang akhirnya ngebecandain keputusan saya ini. Paling sering sih yang bilang: “Gila lho Gita duitnya banyak banget nggak abis-abis, jalan-jalan terussss!”
Padahal mah………nggak sama sekali. Hahahaha (malu).
Duit saya juga pas-pasan kok. Super ngepas. Ini cuma masalah perbedaan passion dan prioritas saja. Ibaratnya, kalian menyisihkan gaji untuk membeli sesuatu yang kalian suka — yang membuat kalian bahagia kalau bisa memenuhinya. Bagi saya, itu adalah traveling.
Hahaha! (Sumber foto: IG Mountainesia)

Saya tabung gaji saya untuk membeli tiket pesawat, tiket kereta, tiket bus. Saya pakai uang saya untuk pergi ke pantai, naik gunung atau mengeksplor kota/negara lain. Saya rela jarang beli baju atau sepatu karena uangnya saya gunakan untuk traveling.
Makanya, yah…..penampilan saya gitu-gitu aja. Baju saya juga itu lagi itu lagi. Cuma, saya suka kesel kalo ada yang suka komentarin penampilan saya. Oke, saya nggak se-fashionable kamu, karena lebih seneng nabung buat jalan-jalan dibanding beli baju, tas atau sepatu. Tapi ya kan bukan urusan kamu juga saya mau berpenampilan seperti apa. Ya, kan? Jadi, diem aja ya. Toh saya juga nggak ganggu kehidupan kamu. Tapi emang ada sih ya orang yang suka iseng mulutnya.
Dari kecil, saya diajarkan untuk bekerja keras kalau ingin mendapatkan sesuatu. Saya juga tumbuh dengan melihat kakak-kakak saya berusaha sendiri untuk mendapatkan yang mereka mau. Tanpa merepotkan orang tua.
Jadi, ketika saya pengen banget jalan-jalan, ya saya nabung sendiri. Nggak pernah dibayarin keluarga. Bahkan, ketika gaji saya nggak cukup buat memenuhi keinginan saya ini, ya saya cari kerja tambahan. Kadang begadang buat ngerjainnya dan pas weekend pun saya masih nulis.
Karena itulah, saya suka sensi sama mereka yang masih aja ngomong seenaknya. Apalagi, suka pamer karena sudah mengunjungi banyak tempat (yang padahal itu juga dibayarin orang tuanya bukan pakai uang sendiri). Lalu, sombong dengan cerita-cerita perjalanannya itu (dan padahal saya juga nggak nanya dan nggak minta diceritain). Kan males ya dengernya? Saking kekinya, makanya saya jadi nulis post begini hahahaha.
Buat orang-orang yang kaya di atas tuh, gini aja: saya nggak butuh rekomendasi tempat dan tips traveling dari kamu. Jadi, jangan sok-sok kasih saran padahal mau pamer ya? Hehe.
After all, you are not on my level.


You Might Also Like

0 comments