Di Papandayan, Untuk Ketiga Kalinya

Rabu, Maret 29, 2017

Dunia itu luas. Dan di umur segini, masih banyak sekali tempat yang belum saya kunjungi. Oleh karena itu, setiap traveling, saya nggak mau pergi ke tempat yang sama. Apalagi, dalam jarak waktu yang berdekatan. Biasanya saya selalu mencari destinasi baru supaya bucketlist saya bisa terpenuhi.
Namun, prinsip itu akhirnya terbantahkan ketika saya pergi ke Papandayan untuk ketiga kalinya. Dan di waktu yang hanya selisih beberapa bulan saja.

Ada alasan mengapa saya bisa naik gunung yang berlokasi di Garut itu sampai tiga kali. Yang pertama, memang karena penasaran rasanya naik gunung. Jadi, Papandayan menjadi pilihan karena katanya sangat cocok untuk pemula. Yang kedua, karena alasan kangen naik gunung. Pada saat itu, sudah dua tahun berlalu semenjak saya naik gunung pertama kalinya. Papandayan lagi-lagi menjadi pilihan karena lokasinya cukup dekat dari Jakarta dan bisa langsung jalan di akhir pekan. Lagipula, ada goal yang ingin saya penuhi di Papandayan: yakni nanjak ke Tegal Alun yang dikenal sebagai padang edelweis.
Untuk yang ketiga kalinya, kasusnya cukup spesial. Awalnya, saya berpikir untuk tidak ikut saja dengan alasan “sudah pernah” ke sana. Tapi, ternyata memang ada faktor mengapa seseorang selalu kembali ke tempat yang sama meskipun sudah ke sana hingga berkali-kali tapi tak pernah bosan. Bisa karena tempat tersebut seperti rumah; mengajak kita untuk kembali dan merasakan lagi kenyamanan itu. Bisa juga karena orang-orangnya yang seru sehingga kamu tidak peduli lagi tempat yang kamu tuju. Asalkan bersama mereka, kamu tahu perjalanan akan menyenangkan.
Itulah yang terjadi pada saya.
Saya akhirnya tetap ikut ke Papandayan karena geng seperjalanannya sangat menyenangkan. Saya ke Papandayan bukan lagi ingin merasakan sensasi naik gunung, menghirup udara segar, juga tidak untuk melihat pemandangan, matahari terbit, bintang bertebaran, hutan mati, edelweis, dan semua yang ada di sana. Saya ke Papandayan untuk ketiga kalinya, hanya untuk merasakan perjalanan bersama mereka sekali lagi.


Hanya untuk merasakan keceriaan di bis, di pendakian, hingga puncak. Merasakan serunya bercerita hingga tengah malam meskipun badan menggigil kedinginan. Merasakan kebersamaan berkumpul dan bercerita di depan tenda. Merasakan senangnya masak bersama dan mencicipi makanan yang lezat. Juga karena ingin mendengar kembali banyolan-banyolan lucu yang membuat saya tidak berhenti tertawa. Sampai perut sakit dan pipi pegal hahaha!
Jadi begitulah……terkadang memang ada alasan untuk kembali ke tempat yang sama. Selama ini, saya pikir akan menjadi sesuatu yang sia-sia jika pergi ke tempat yang pernah dikunjungi. Untuk apa melihat pemandangan yang sama lalu melakukan aktivitas serupa juga di sana? Namun ternyata, mencoba kembali ke tempat yang sama tidak ada salahnya dan tidak ada ruginya jika dilakukan dengan alasan dan orang-orang yang tepat. 
Well, saya baru menyadari hal tersebut ketika saya pergi ke Papandayan untuk ketiga kalinya.

You Might Also Like

0 comments