Di Jakarta, To Take Things Slowly

Rabu, Maret 29, 2017

Di Jakarta, semuanya terasa terburu-buru. Seperti selalu dikejar waktu. Ada kewajiban yang harus dipenuhi setiap harinya. Bagi saya, kewajiban itu adalah pergi kerja demi gaji di penghujung bulan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, jalan-jalan dan tabungan di masa depan.
Melaksanakan kewajiban itu tidak mudah. Perjalanan ke kantor dari rumah saya yang letaknya mepet Bekasi ke Jakarta Barat, merupakan cobaan terberat. Jarak yang jauh ditambah transportasi yang kurang memadai membuat saya harus berpacu dengan waktu setiap hari.
Bangun tidur langsung siap-siap berangkat ke kantor. Tak sempat sarapan. Di jalan, waktu tak melambat tapi justru semakin cepat. Beribu manusia lain yang memiliki tujuan sama berkumpul di stasiun, halte, jalan raya. Tergesa-gesa sampai ke tempat tujuan.
Sebagai warga Jakarta yang sehari-hari naik kereta dan Transjakarta, ini pemandangan yang biasa saya lihat: para penumpang berdesakan masuk ke sana. Sebelum pintu terbuka, mereka sudah bergerak dengan cepat. Dorong-dorongan hal yang biasa. Pergantian penumpang turun dan naik kira-kira hanya berlangsung sepuluh detik dengan “taktik menerobos”. Penumpang yang akan naik, langsung masuk bahkan sebelum penumpang sebelumnya turun.
Mengikuti arus, saya jadi menjadi manusia super cepat (dan mungkin super egois) saat di perjalanan. Begitu keluar rumah, langsung stop angkot menuju stasiun. Di stasiun langsung baris di peron paling depan. Jika turun angkot, kereta sudah mau datang, saya langsung lari secepat mungkin ke peron. Tidak boleh ketinggalan! Dan begitu pintu kereta terbuka, langsung menerobos masuk. Tidak boleh kalah sama dorongan penumpang-penumpang lain yang tenaganya luar biasa! Bagaimana pun juga, harus naik kereta yang ini karena yang selanjutnya belum tentu tepat waktu. Begitu pula dengan Transjakarta. Alhasil, sampai kantor sudah acak-acakan dan ngos-ngosan. 

Dan hal itu pun berulang di saat jam pulang kerja.
Keluar kantor jam lima tepat. Jalan cepat-cepat untuk naik Transjakarta agar sampai stasiun pukul setengah tujuh. Sebab, kereta setengah tujuh adalah yang paling mending dibanding jam lainnya. Tidak terlalu padat, tidak terlalu lama tertahan ketika mau masuk Manggarai dan ada dua pemberangkatan kereta yang berdekatan di jam tersebut. Pokoknya saya harus bisa naik kereta jam setengah tujuh! Alhasil, saya jadi sering melewatkan salat maghrib demi kereta tersebut.
Namun, suatu hari saya akhirnya bisa menikmati Jakarta dengan lambat. Menikmati waktunya dengan perlahan. Semua itu bermula ketika saya sedang patah hati hahaha (so lame). Saya memang selalu melakukan ini ketika sedang sedih: jalan kaki pelan-pelan sambil merenung dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan terbaik maupun terburuk. 
Kali itu, saya keluar kantor lebih lama. Tidak terburu-buru menyetop angkot. Tidak berjalan cepat untuk naik Transjakarta. Akhirnya, saya sampai stasiun jam 18.45. Sudah ketinggalan kereta setengah tujuh yang selalu saya banggakan. Lalu, saya ingat belum salat maghrib. Maka dari itu, untuk pertama kalinya, akhirnya saya mampir salat maghrib di stasiun Juanda. Bahkan, sampai lanjut salat isya. Pukul tujuh lewat sepuluh saya baru mendapat kereta pulang ke rumah. 
Dan keputusan saya untuk “melambat” tadi justru membawa berkah. Saya jadi tahu bahwa  kereta setelah jam setengah tujuh ternyata lebih baik. Kereta pukul 19.10 itu sangat sepi sehingga saya bisa mendapat tempat duduk. Bagi saya yang sehari-hari harus jadi pepes di kereta (dan berdiri saja susah), mendapat kursi kosong adalah sebuah keajaiban. Lebih menyenangkan lagi, kereta tersebut tidak tertahan sama sekali *nangis bahagia*.
In Jakarta, maybe we should take things slowly to see its beauty. 
Meskipun pada akhirnya saya sampai rumah lebih malam, saya tidak menyesal. Karena ternyata, Jakarta tidak sekeras itu. Jika dinikmati pelan-pelan, ia justru menjadi ramah. Angin malamnya menyejukkan, kereta sepinya sungguh menenangkan dan…..berjalan kaki di sekitarnya terasa menyenangkan. Jadi ingin seperti di film-film: mengitari Jakarta sampai pagi sambil mengobrol tentang apa saja. 

You Might Also Like

0 comments