The Architecture of Love, Tertarik ke Dunia River dan Raia

Minggu, Juni 26, 2016

Semenjak memasuki umur 20, saya jarang sekali membaca buku bergenre cinta-cintaan dan Metropop. Entahlah, semacam tidak tertarik dengan tema seperti itu lagi. Namun, semua itu pengecualian untuk buku-buku karya Ika Natassa. Saya selalu ingin membaca buku-bukunya, meskipun belum tahu benar garis besar ceritanya, dan bahkan belum mengerti bagaimana karakter tokoh utama dalam buku terbarunya. Yang pasti, saya selalu yakin Ika Natassa bisa menghadirkan cerita yang menarik dengan tokoh yang tidak mudah dilupakan.


And, she did well again in her new book, The Architecture of Love. Buku ini awalnya bermula dari proyek #PollStory yang dikerjakan Ika Natassa, bekerja sama dengan Twitter Indonesia. Di proyek tersebut, Ika hanya merancang plot besar ceritanya, sementara kelanjutan ceritanya ditentukan oleh pembaca melalui sebuah polling di Twitter. Kisah tersebut "ditayangkan" setiap Selasa dan Kamis malam di Twitter -- dimulai pada malam tahun baru 2016 dan berakhir di hari Valentine.

The Architecture of Love sendiri bercerita tentang Raia Risjad, seorang penulis,  yang "kabur" ke New York untuk menyepi sejenak dari kenangan pahitnya di Jakarta. Masa lalu yang kurang menyenangkan di Jakarta membuat Raia kesulitan menulis dan sudah dua tahun tidak menghasilkan buku baru. Alasan itu jugalah yang membuatnya melangkahkan kaki ke New York. Raia ingin mencari inspirasi agar dirinya bisa menulis lagi. Di New York, Raia bertemu dengan River Jusuf, arsitek misterius yang ternyata memendam luka akibat kejadian yang dialaminya tiga tahun lalu. Berawal dari pertemuan yang tak sengaja di malam tahun baru dan Central Park, Raia dan River memutuskan untuk keliling New York hampir setiap hari, dimulai dari jam 9 pagi -- River ingin menggambar bangunan-bangunan yang ada di sana, sementara Raia mencari cerita untuk ditulis.

Satu hal yang paling saya suka dari buku ini adalah cara Ika menggambarkan rasa sakit yang dialami Raia dan River. Seolah-olah saya tertarik ke dunia mereka dan ikut merasakan sakitnya. How it feels like to lose someone you love that much. Saya merasakan betapa besar cinta Raia ke Alam dan cinta River untuk Andara. It's all makes sense. Tidak ada alasan untuk bertanya "Kok dia gitu, sih?", "Kenapa River ga gini aja, sih?" -- semua penggambaran tentang luka yang dialami River dan Raia membuat kita memaklumi setiap keputusan yang mereka ambil. Saya menikmati penggambaran kebersamaan Raia dan River, bagaimana mereka menikmati keberadaan satu sama lain. Tidak meledak-ledak, tidak romantis, tidak terlalu cheesy. Membuat nyaman tapi dengan cara yang sederhana. Pelengkap, penyembuh rasa sakit yang dialami.

Saya pernah membaca sebuah review yang membahas salah satu buku Ika Natassa, si pemberi review mengatakan, terkadang Ika menambahkan narasi yang tidak terlalu penting di buku-bukunya seolah ingin "mengajari" pembaca. Tapi menurut saya, itu malah kekuatan dari cerita yang disampaikan Ika. And yes, narasi-narasi tersebut menambah pengetahuan, sih. Kalau di Critical Eleven, saya suka filosofi-filosofi tentang travelling dan Jakarta, di The Architecture of Love, secara tidak langsung, Ika memberitahu bagaimana proses kerja penulis. Dan ia menggambarkannya di tengah kekalutan Raia yang tidak bisa membuat tulisan baru. Plus all the quotes about writing? I love it! 
" Writing is one of the loneliest professions in the world. Ketika sedang menulis, hanya ada sang penulis dengan kertas atau mesin tik atau laptop di depannya, hubungan yang tidak pernah menerima orang ketiga."
Last but not least, salah satu hal penting dari sebuah novel adalah dialog. Dan percakapan Raia dan River? It's the best! Saya bisa senyum-senyum sendiri waktu membacanya. Ikut ketawa waktu River ngelontarin jokes garing, ikut mesem-mesem waktu Raia bercandain River. Natural.
"Bapak Sungai bisa dengar?" 
"Dengar banget! Manggilnya Bapak Sungai lagi,"
Raia tertawa. "Nggak keberatan kan aku juluki Bapak Sungai?"
"I can live with that," River tertawa kecil.
"You can live with that?"
"I can live with that." 
Hehehehe lucu, ya. Gemaaas! So far, The Architecture of Love malah buku Ika Natassa yang paling saya suka. Awalnya menolak baca, takut baper karena nama belakang tokoh utamanya pake nama Jusuf! Why oh whyyyyy. Tapi, setelah baca malah suka banget haha bahkan bisa menyelesaikannya dalam beberapa jam aja, lho! That's what a good book does -- you can't stop reading it hehe.

P.s: I can picture Raline Shah as Raia Risjad here, don't know why. For River Jusuf? Still have no idea.

You Might Also Like

0 comments