Di Jakarta, Saatnya Memulai Kembali

Minggu, Juni 12, 2016

Hai, sudah lama ya tidak menulis di blog. Rutinitas menulis setiap hari di kantor membuat lupa menulis untuk diri sendiri. Akhirnya, blog ini jadi terbengkalai. Dan, hati jadi kurang lega.

Kalau ditanya, apa kabar saya, jawabnya mungkin sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Saya tidak tahu apa kalimat yang pas untuk menggambarkannya, tapi mungkin bisa dibilang saya baru saja mengalami "post breakup syndrome". Efeknya sepertinya datang agak terlambat. Hubungan cinta saya sebenarnya sudah berakhir dari setahun yang lalu, tapi memang setelahnya kami tidak benar-benar lepas. Setelah putus, tidak ada perbedaan di antara kita -- hanya status saja yang berganti. Masih bersahabat baik, masih memberi perhatian yang sama.

Ketika akhirnya hubungan semakin merenggang, saya tidak merasakan apa pun. Menangis sudah pasti, tapi saya menganggapnya ini memang memerlukan jeda sejenak. Saya berpikir, kami berdua memang perlu lepas untuk sementara. Saya bahkan sempat dekat dengan laki-laki lain dalam proses itu. Namun, seperti yang sudah-sudah, saya selalu kembali lagi ke dia. Capek sebenarnya, tapi ya hati memang sulit dibohongi.

Keadaan tidak lebih mudah, tapi justru semakin sulit. Hubungan yang sudah rusak, bagaimanapun juga tidak akan bisa diperbaiki lagi. Saya menganggap, mungkin memang ini sudah tanggal kadaluarsanya. Akhirnya, bom waktu itu meledak juga. Saya memutuskan  untuk memberi jeda lagi. Mungkin, yang kemarin belum cukup lama sehingga kami tidak bisa menemukan esensinya #halah. Mungkin, butuh waktu lebih?

Awal-awal tanpa dia, rasanya baik-baik saja. Yah, inilah proses yang harus dijalani. Walaupun diam-diam, sebenarnya saya berharap dia akan kembali seperti yang sudah-sudah. Seperti yang pernah dia bilang: "Tak peduli sejauh apa pun kita menjauh, kita pasti akan selalu bertemu di titik yang sama". Dan, yah memang terbukti sebelumnya.

Namun, suatu hari, seperti ditampar kenyataan, saya sadar, kali ini dia tidak akan kembali lagi. Barulah saya sadar, kali ini saya benar-benar kehilangan dia. Efeknya datang terlambat, ya? Kaya masih nggak percaya ini akhirnya beneran udahan. Selama empat tahun, sudah tak terhitung berapa kali kami mengucap putus, mau pergi, mau udahan. Tapi, selalu balik lagi balik lagi balik lagi. Semua masalah kecil sampai masalah yang paling besar, kami bisa melewatinya. Tapi, tidak kali ini. Makanya, pas sadar semuanya beneran berakhir, saya cukup down.

Sebenarnya, berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk benar-benar pulih dari patah hatinya? Saya tidak tahu.

Ini bukan pertama kalinya saya patah hati. Tapi, ini yang paling parah. Percayalah ini sungguh berat untuk saya. Bahkan, sampai cari-cari artikel di google: "how to survive the breakup", "how to deal with broken heart" hahaha gila, ya? Rasanya sangat sulit lepas dari orang yang selama bertahun-tahun menemani. Sulit lepas dari seseorang yang pernah diyakini memiliki masa depan bersama. Ah, those dreams......Sulit untuk tidak berharap semuanya akan kembali seperti semula.


Tapi, sesayang-sayangnya saya sama dia, saya lebih sayang sama diri saya sendiri. Saya nggak bisa terus-terusan mengharapkan seseorang yang tidak bisa diharapkan lagi. Saya memutuskan untuk menyembuhkan diri saya sendiri. Sebelumnya, setiap rasa sakit yang saya alami, selalu ada dia yang menyembuhkan. Tapi sekarang, dia yang justru menjadi penyebab lukanya haha. Yah, harus mandiri, memang seharusnya tidak boleh terlalu bergantung kepada orang lain. 

Cara "sembuh" orang berbeda-beda, yes? Untuk ngobatin patah hati, saya memilih untuk travelling. Bandung-Pahawang-Garut-Lampung-Purwakarta. Selama sebulan, setiap akhir pekan, saya selalu ke luar kota. Menjernihkan pikiran, sibuk melihat hal dan tempat baru sehingga tidak ada waktu memikirkan masa lalu. And....maybe that's right: travel has the power to heal. Setelahnya, saya merasa cukup baik. Setidaknya, lebih baik dari sebelumnya. 

Di saat yang bersamaan, saya menemukan lagu Monita yang Memulai Kembali. Saya suka musik, lirik dan video klipnya. Breaking up is never easy, right? Tapi bukan berarti jadi alasan untuk terus-terusan sedih. Sakitnya masih ada, tapi saya yakin, semuanya bakal baik-baik saja. Semoga saya baik-baik saja. Pelan-pelan mulai ikhlas dan siap melepas mimpi-mimpi yang tidak bisa tercapai. Siapa tahu, diganti dengan yang lebih-lebih.

Niat baik pasti selalu ada jalannya, kan?

Saya siap memulai kembali.

You Might Also Like

0 comments