Di Perjalanan ke Terminal Guntur, Hampir Mati

Kamis, September 03, 2015

Adakah momen di kehidupan kamu di mana kamu rasanya mau mati? Yang bikin kamu mikir, "this is it, kayaknya gue bakal mati sekarang deh,". Pernahkah kamu mengalami hal tersebut? Saya pernah. Dua kali.

Pertama, ketika naik Tornado untuk pertama kalinya. Ketika kepala saya menghadap tanah dan kaki saya mengarah ke langit. Ketika yang bisa saya lakukan hanya berteriak, mau nangis, manggilin nama mama berulang-ulang. Saya tidak bisa mengontrol tubuh saya sendiri. Kalau saja sabuk pengaman saya lepas, saya pasti langsung jatuh dengan wajah tepat membentur aspal. Kalau memang saya harus mati, mungkin itu waktunya.

Tapi ternyata tidak, saya tidak jadi mati. Beberapa detik kemudian, tornado berbalik dan kepala saya berada di atas lagi. Mata saya kembali menatap langit. Meskipun setelah itu saya diputar-putar sampai hampir muntah dan gila, tetapi saya tidak jadi mati. Belum.

Kedua kalinya saya hampir mati ketika dalam perjalanan menuju Terminal Guntur, Garut. Waktu itu, saya, teman-teman dan penumpang lainnya berangkat dari Terminal Kampung Rambutan pukul setengah 12 malam. Begitu naik bus, saya langsung tertidur. Ketika sekitar pukul 2 pagi saya terbangun, masih setengah sadar saya merasakan bus saya agak oleng.

Tapi, lama-lama kok olengnya keterusan? Bus bergerak ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan yang tinggi. Saya bisa merasakan bus tersebut sudah keluar jalur yang seharusnya.

Pada saat itu, saya hanya berpikir "Ini mah tinggal nabrak aja nih, ya ampun gini nih gue matinya?" Saking olengnya dan tidak kembali ke jalur-jalur yang benar, sebenarnya bus itu hanya tinggal nunggu nabrak: entah nabrak pembatas jalan lalu jatuh ke jurang atau nabrak mobil dari arah yang berlawanan.

Penumpang bus teriak semua tapi saya hanya diam saking nggak bisa teriak. Doa atau istighfar aja nggak sempet. Pokoknya cuma mikir ini kayanya mau mati nih. Atau kalau nggak mati karena kecelakaan pasti luka-luka parah, nih. Sudah mikir kemungkinan terburuknya.

Tapi, untungnya saya nggak jadi mati lagi. Belum lagi.

Entah, mungkin teriakan penumpang mengembalikan kesadaran pak supir. Setelah sekitar 10 detik penuh keolengan, akhirnya bus kembali ke jalur jalan yang benar. Beberapa penumpang ada yang memarahi pak supir. Tapi hebatnya pas supir tetap jalan, like.....nothing happenned. Berhenti sejenak untuk minum atau ngopi pun nggak :""") Dia santai, kitanya ketar-ketir hahaha. Setelah kejadian itu, akhirnya satu bus sudah nggak bisa tidur lagi. Tanpa sadar, kami "menjaga" pak supir biar nggak ngantuk lagi.

Ketika kami sampai di Terminal Guntur dan melewati pak supir untuk turun bus, tiba-tiba dia berkata: "Maafin Bapak ya Neng, maklum udah tua,". Terharu ya ampun jadi nggak enak sama bapaknya. Saya menjawab: "Iya tidak apa-apa, Pak. Yang penting kita semua akhirnya selamat."


Dan Alhamdulillah, karena saya tidak jadi mati, saya bisa melihat pemandangan ini di atas Gunung Papandayan :) 
(Photo by Jule)

You Might Also Like

0 comments