Di Tegal Alun, Tentang Seseorang yang Sangat Mencintai Edelweis

Minggu, Juli 05, 2015

Saya pernah mengenal seseorang yang sangat menyukai gunung. Sampai-sampai, ia ingin melamar perempuan yang ia sayangi di sana. Sampai-sampai, dia ingin meninggal di atas sana seperti Soe Hok Gie. Jauh sebelum tren naik gunung ramai, dia sudah mendaki sejak SMA. Pada saat itu, saya hanya mendengarkan cerita-ceritanya. Mulai dari ketemu setan di Gunung Gede sampai hilang di gunung selama tiga hari.

Ketika kesempatan naik gunung baginya belum ada lagi, justru saya yang semenjak kuliah jadi sering 'ngayap' mulai mendapat ajakan-ajakan naik gunung. Sebenarnya, pingin sih sampai naik Semeru tapi belum ada yang ajakkin ke sana hahaha. Jadinya, pengalaman saya pertama naik gunung ya ke Papandayan dulu saja.

Ketika saya menyatakan keinginan saya buat naik gunung, saya pikir dia akan senang. Ternyata, dia malah marah. Alasannya: 1) karena pergi sama cowok-cowok 2) sebenarnya dia iri karena nggak bisa naik gunung-gunung Indonesia lagi. Sampe berantem waktu itu penting banget nggak sih hahaha tapi karena Gita ngeyel yasudah jadinya tetap jalan. Dia juga akhirnya mau mengerti tapi malah jadi bawel karena ngingetin macem-macem.

Selain peringatan 'jangan centil-centil sama cowok lain' (beneran ini yang pertama kali diingetin), 'jangan lupa pake jaket yang tebel', 'kalau nggak kuat, pakai tongkat buat nanjaknya', 'jangan lupa berdoa', dan 'jangan buang sampah sembarangan', saya ingat sekali dia bilang ke saya jangan pernah petik edelweis yang ada di sana. Di Papandayan sendiri memang banyak sekali bunga edelweisnya. Bahkan, tak jauh dari tenda kami pun terdapat pohon-pohon edelweis. Apalagi di Tegal Alun yang bisa dibilang sebagai padang edelweis. Terhampar luas edelweis, mulai dari yang masih kuncup sampai yang sudah mekar.

Jika saya sangat menyukai bunga Matahari, maka sepertinya ia sangat menyukai edelweis. Baginya, bunga ini sangat spesial karena hanya ada di ketinggian tertentu. Maknanya sebagai bunga keabadian dan ketulusan dia junjung tinggi.


Boleh dipegang, dipetik jangan

Ia tidak segan mengatai orang yang memetik edelweis 'goblok'. Dia selalu marah-marah ke saya jika melihat teman-temannya ada yang justru bangga setelah memetik edelweis. Kalau ada yang nunjukkin hasil petikan edelweis di depan mukanya, mungkin saja bisa dimaki atau dipukul hahaha iya dia mah galak banget orangnya.

Saya masih punya cita-cita untuk naik gunung lainnya lagi. Dan ketika nanti saya memiliki kesempatan lain, pesan dia yang ini akan saya ingat selalu.

Sampai kapan pun.

You Might Also Like

0 comments