Di Palbatu, Mampir ke Kampoeng Batik

Kamis, Juli 30, 2015

Kampoeng Batik.

Dari mendengar namanya, saya sudah tahu jika kampung ini pasti berkaitan erat dengan batik, salah satu kesenian Indonesia. Namun, saya tidak menyangka jika motif batik –yang biasanya saya lihat di kain– ternyata juga memenuhi jalanan hingga dinding-dinding rumah yang ada di kampung ini. Jalanan aspal bermotif batik berupa topeng dan bunga-bunga langsung menyambut saya ketika berkunjung ke Kampoeng Batik Palbatu. Pemandangan tersebut baru pertama kali saya lihat. Biasanya, jalan-jalan yang pernah saya lewati hanya berasal dari aspal hitam, tidak ada coretan apapun.

Aspal bermotif Batik ini langsung menyambut saya saat berkunjung ke Kampoeng Batik Palbatu

Sejak 22 Mei 2011, sebuah daerah di Palbatu ini memang resmi menjadikan lingkungannya sebagai Kampoeng Batik. Saat berkunjung ke sana, saya bertemu dengan Pak Hari, salah satu penggagas Kampoeng Batik. Beliau banyak memberikan informasi kepada saya mengenai Kampoeng Batik ini. Ide awal pembuatan kampung ini muncul karena melihat semakin punahnya kampung batik di Jakarta. “Padahal, dilihat dari sejarahnya, dulu pernah ada kampung batik di Jakarta. Banyak. Ada di beberapa titik. Tapi, lalu kegusur. Kami mencoba membangun kembali biar warga juga ikut berpartisipasi melestarikan batik,” jelas Pak Hari.

Banyak kegiatan yang dilakukan di Kampoeng BatiK Palbatu. Salah satu kegiatan rutinnya adalah belajar membatik bagi warga sekitar. Pak Hari mengatakan, hal ini bertujuan agar warga dapat mengetahui proses membatik yang baik dan benar. “Kegiatan ini rutin dilakukan dan ibu-ibu di sini sudah ada yang bisa memproduksi batik sendiri,” kata Pak Hari.

Tidak tanggung-tanggung, Kampoeng Batik Palbatu juga menciptakan motif batiknya sendiri. Motif topeng dan kembang api merupakan motif unggulan dan khas Kampoeng Batik Palbatu. “Karena tinggal di Jakarta, maka kami berusaha mengangkat budaya Betawinya, yaitu dari tari topeng. Kalau kembang api, karena warga Jakarta atau Betawi setiap mengadakan perayaan pasti menggunakan kembang api,” kata Pak Hari. Hasil batiknya sendiri tidak didistribusikan ke tempat lain, melainkan hanya dijual di Palbatu saja. Menurut Pak Hari, hal ini merupakan keunggulan tersendiri karena bisa memberikan ciri khas bagi Kampoeng Batik Palbatu. “Kalau mau beli ya adanya cuma di sini,” ujarnya.

Motif Topeng khas Kampoeng Batik Palbatu. Sumber: situs resmi Kampoeng Batik

Tidak hanya bercerita mengenai Kampoeng Batik, Pak Hari juga menjelaskan banyak hal tentang batik. Saya baru tahu kalau ternyata, setiap motif batik memiliki filosofinya sendiri. Motif Parang misalnya, melambangkan perilaku halus dan bijaksana. Atau motif Kawung yang melambangkan kebijaksanaan dan keseimbangan hidup. “Batik memiliki nilai dan doa. Contohnya, ketika memberikan kain batik kepada orang yang disayang dengan motif Parang, maka kita berharap orang tersebut jadi bijaksana dan kehidupannya seperti raja-raja,” kata Pak Hari. Motif Parang dahulu kala memang biasanya dikenakan oleh keturunan kerajaan atau keraton.

Berdasarkan keterangan Pak Hari, proses membatik juga ternyata tidak hanya sekedar menorehkan lilin panas ke kain saja, tetapi memiliki maknanya tersendiri. Kain putih yang masih bersih dan polos menggambarkan seseorang yang baru lahir ke dunia. Lalu, pemberian motif di kain tersebut, sama dengan perjalanan hidup seorang manusia, bagaimana orang tersebut mengisi hidupnya. Penggunaan lilin panas untuk menggambar motif, layaknya kehidupan manusia yang terus ditempa oleh ujian. Lalu setelah itu, batik akan diberi warna, sama seperti manusia yang pengalaman hidupnya akan mewarnai kehidupannya kelak. Selanjutnya, ketika kain batiknya sudah jadi, maka kain tersebut bisa digunakan sebagai pakaian, selendang ataupun hal berguna lainnya. Hal ini sesuai dengan manusia yang diharapkan bisa bermanfaat bagi sesama manusia lainnya. Pas mendengar cerita Pak Hari, saya sampai merinding sendiri karena ternyata setiap hal yang kita lakukan tidak sesimpel kelihatannya saja, melainkan memiliki banyak pelajaran hidup.

Kegiatan belajar membatik di Kampoeng Batik Palbatu terbuka untuk umum. Setiap hari Senin sampai Jumat, sampai dengan pukul lima sore, Kampoeng Batik Palbatu melayani siapa saja yang ingin belajar membatik. Untuk warga sekitar Palbatu, tidak ada biaya yang dikeluarkan. Namun, untuk warga di luar daerah tersebut harus membayar sebesar 75 ribu rupiah. Pak Hari bilang, uang tersebut nantinya akan digunakan untuk membiayai kegiatan di Kampoeng Batik Palbatu.

Sayang sekali, ketika berkunjung ke sana, tempat belajar membatiknya sudah tutup karena saya datangnya sore hari huhu. Lain kali saya akan datang dari pagi!

You Might Also Like

0 comments