Di Transjakarta Lebak Bulus-Harmoni, Ketika Ibu Hamil Susah MendapatTempat Duduk

Sabtu, Maret 21, 2015


sumber foto: google images

Transjakarta pada jam pulang kerja sungguh ramai. Puluhan orang berada di dalamnya. Berhimpitan, bersama-sama memiliki keinginan untuk cepat sampai di rumah. Saya terjebak di sana setiap sorenya, seperti pepes. Belum lagi macet di sepanjang perjalanan. Kaki pegal karena berdiri lama.

Oleh sebab itu, satu kursi di Transjakarta nilainya sangat berharga. Berhasil mendapat tempat duduk di Transjakarta pada jam pulang kerja, merupakan berkah/rejeki/keberuntungan yang amat besar. Alhamdulillahirabbilalamin, terima kasih ya Allah.

Mendapat tempat duduk saat jam pulang kerja biasanya membuat kita lupa diri. Sudah enak, sudah santai. Ini kursi saya. Nunggunya hampir sejam. Saya mau duduk sampai rumah. Saya mau tidur. Tidak lagi peduli sekeliling. Pemandangan seperti itu sering saya lihat.

Seorang ibu hamil harus berdiri, menunggu ada penumpang yang merelakan tempat duduknya. Semenit, dua menit, tidak ada yang beranjak. Petugas Transjakarta harus turun tangan. Ia berteriak meminta pengertian penumpang. "Tolong ya Mbak, ya, kasih tempat duduknya untuk ibu hamil." Lima detik, sepuluh detik, tidak ada yang beranjak.

Sang petugas dengan sabar menyapa satu-satu penumpang. "Mbak minta kursinya ya Mbak untuk ibu hamil,". Si mbak-mbak yang berada di gerbong perempuan pura-pura tidak mendengar. Masih belum beranjak. Si petugas kebingungan, agak sedikit kesal karena tidak ada yang mau mengalah. Si ibu hamil menunggu sambil mengelus-elus perutnya. Satu menit, dua menit, ibu hamil belum juga dapat tempat duduk.

Mbak-mbak di kursi prioritas tertidur nyenyak. Semuanya, Sederet. Dari tiga kursi prioritas, tidak ada yang bersedia memberikan kursinya. Padahal, kursi itu bukanlah haknya. Dengan masker di wajah, mereka memejamkan mata. Menulikan pendengaran. Semua penumpang berharap kepada mereka untuk memberikan tempat duduk. "Itu kan kursi prioritas," terdengar bisik-bisik dari penumpang lainnya. Tapi apa daya, rasa lelah mengalahkan segalanya. Keinginan mendapat tempat duduk dan bisa tidur di perjalanan menumpulkan kepedulian.

Petugas Transjakarta tidak menyerah. "Ayo dong Mbak, tolong kursinya," katanya dengan nada yang sedikit meninggi. Ibu hamil mengelap keringat di jidatnya. Lima detik, sepuluh detik, masih belum ada yang beranjak.

Petugas Transjakarta tidak sabar. "Tolong ya Mbak, sesama perempuan juga,"

Akhirnya, seorang penumpang memberikan kursinya. Setelah lima detik, sepuluh detik, satu menit, lima menit ibu hamil menunggu. Setelah petugas Transjakarta mengeluarkan jurus kalimat "sesama perempuan". Setelah tidak ada satu pun penumpang yang mau memberikan sebelumnya meski sudah ditegur petugas Transjakarta.

Ibu hamil mengucapkan terima kasih. Ia mengusap-usap perutnya. Mungkin ingin mengatakan kepada calon bayinya: "akhirnya nak,". Ibu hamil itu terlelap pulas sampai halte terakhir. Semoga setelah itu, dia tidak perlu lagi transit naik Transjakarta lainnya. Kalaupun iya, semoga ada orang berbaik hati yang langsung ingin memberikan kursinya tanpa perlu menunggu.

You Might Also Like

0 comments