Di Perjalanan Menuju Kantor Saat Hujan Deras, Senin yang Gila

Kamis, Februari 12, 2015

Senin pagi.
Jakarta.
Hujan deras.
Kombinasi yang mematikan, bukan?

Walaupun tidak mematikan manusia dalam arti yang sebenarnya, hujan di Senin pagi kemarin mematikan jiwa-jiwa manusia yang ingin beraktivitas pagi itu. Mematikan semangat.

Ada yang tidak jadi berangkat ke kantor karena cuaca yang mendukung untuk terus memeluk kasur seharian. Ada pula yang harus tetap ke kantor karena terpaksa. Deadline, katanya. Atau atas nama profesionalisme.

Namun, sepanjang perjalanan jiwanya sudah mati. Lebih mati dari mereka yang memilih bermalas-malasan di rumah karena hujan. Di perjalanan, ia menimbang-nimbang, pulang lagi atau tidak. Hujan deras sekali dan tidak ada tanda akan berhenti. Jalanan macet sekali dan tidak ada tanda dia bisa sampai ke kantor dalam waktu 2,5 jam seperti biasanya.

Pulang tidak ya?
Ah, deadline!

Ia memutuskan untuk tetap ke kantor. Ingin menyelesaikan tulisan yang akan naik cetak sebentar lagi. Ia tetap pergi ke kantor walaupun ia sudah menunggu Transjakarta selama satu jam. Menunggu bersama orang-orang yang kesabarannya hampir habis. Bersama mereka yang sudah ngedumel dan memaki-maki petugas Transjakarta.

Meskipun terkenal suka terlambat, Transjakarta tidak pernah selama itu. Macet dan banjir katanya. Ibu-ibu berkomentar, "Kalau nggak banjir dan macet namanya bukan Jakarta! Jangan dijadikan alasan, dong." Iya juga, sih. Tapi hujan di Senin pagi kemarin memang luar biasa gila.

Pukul setengah 11 siang, akhirnya sampai kantor. Padahal, berangkat dari jam 6 pagi. Sampai kantor, cuma ada tiga orang. Pukul 1 siang, memutuskan untuk pulang saja.

Ternyata, tidak bisa pulang. Banjir di mana-mana. Transjakarta tidak beroperasi. Dia kebingungan. Mampus, pulang naik apa? Dia benar-benar buta daerah ini.

Hujan masih mengguyur Jakarta. Jalanan sepi. Tidak ada orang yang dapat ditanya. Ia diam di pinggir jalan, mengamati setiap angkutan umum yang lewat. Memperhatikan tulisan di kaca angkot. Tanah Abang, Blok M, Maruya, Kebayoran. Ia memilih Kebayoran, berharap kereta beroperasi. Ternyata, rel kereta tergenang, tidak bisa dilewati. Sial!

Baju sudah basah kuyup. Badan sudah kedinginan. Dengan sisa-sisa semangat, ia menuju Tanah Abang. Berdasarkan Broadcast Message dari seorang teman, daerah itu aman dari banjir. Dari Tanah Abang, ia bisa naik bis kuning ke Kampung Melayu melewati Karet, Kuningan, dan Tebet. Daerah Kuningan yang biasanya ia benci karena sering macet, sekaran menjadi penyelamat hidupnya. Jalan pulang. Jalan kembali ke rumah.

Setengah 6 sore akhirnya sampai rumah. Padahal pulang dari pukul satu. Kebasahan. Kedinginan. Semangkuk bakso menjadi reward atas perjuangan hari itu. Menghangatkan tubuh dan....jiwa yang hampir mati.

Jakarta.
Hujan deras.
Hidup di Jakarta sungguhlah keras.

You Might Also Like

0 comments