Di Pasar Perumnas Klender, Melihat Geliatnya di Pagi Hari

Sabtu, Februari 14, 2015

Matahari belum menunjukkan sinarnya sama sekali. Namun, Pasar Perumnas Klender sudah dipenuhi dengan para pedagang dan calon pembeli. Di pinggir jalan menuju pasar, berjejer pedagang sayuran. Bermodalkan terpal, mereka membuka lapak di teras toko eletronik yang belum buka. Ada pula pedagang yang mengambil lahan di sisi jalan raya, membuat angkutan umum yang saya tumpangi memperlambat lajunya. Mengakibatkan kemacetan di sepanjang jalan.

Semakin dekat dengan pusat pasar, semakin banyak pula orangnya. Saya harus mengantre untuk memasuki lorong pasar. Atau, mengucap permisi ketika ingin mendahului. Saya jadi teringat ucapan teman saya ketika membicarakan pasar yang ramai, “Namanya juga pasar. Kalau sepi, ya kuburan namanya!”. Iya juga.

Pasar Perumnas Klender terletak di Jalan Teratai Putih Raya, Duren Sawit, Jakarta Timur. Tidak jauh dari rumah saya. Pasar ini dikelola oleh PD Pasar Jaya sejak tahun 1996. Pasar Perumnas Klender terbagi dua. Satu berupa bangunan dengan empat lantai. Diisi dengan kios-kios yang menjual segala kebutuhan sehari-hari mulai dari makanan, pakaian, sepatu, kosmetik, hingga alat-alat masak. Dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan lahan parkir. Pasar Perumnas Klender bagian ini buka dari pukul sepuluh pagi hingga jam delapan malam.

Namun, Pasar Perumnas Klender yang saya kunjungi pagi ini adalah sisi lain dari bangunan empat lantai tersebut. Ibu saya sering menyebutnya dengan “Pasar Perumnas Bawah”. Pasarnya berupa jalan yang memanjang dengan para pedagang di kanan dan kirinya. Letaknya berada di luar dan tidak ada bangunan yang menaunginya. Hanya ada terpal berwarna biru dan oranye sebagai atap. Itu juga bolong-bolong sehingga saya masih dapat merasakan gerimis yang turun pagi tadi. Air sisa hujan semalam pun masih menggenang. Salah langkah, kaki bisa masuk ke kubangan air berwarna kecoklatan. Tidak hati-hati, kaki bisa terpeleset dan Anda bisa terjatuh.

Semua pedagang bebas membuka lapak dagangannya di mana saja, tidak dipisahkan sesuai jenisnya. Jangan heran jika Anda melihat tukang pakaian berada di sebelah tukang ayam. Atau penjual racun tikus yang berada di sebelah kios ikan. Bau sayuran, buah-buahan, daging sapi, ayam, ikan dan kapur barus menjadi satu.

Namun, meskipun begitu, pasar ini sangat diminati warga sekitar. Pukul setengah enam pagi, ibu-ibu sudah mengerumuni pedagang sayuran, pedagang ayam, pedagang tahu tempe, dan juga pedagang ikan. “Kalau siang dikit nanti kehabisan,” kata salah seorang ibu berusia 55 tahun. Ia sering berbelanja di pasar Perumnas Klender Bawah ini karena banyak pilihan dan harganya lebih murah. Di warung sayuran dekat rumahnya, tidak tersedia bahan masakan yang beragam.

Suara tawar-menawar harga antara penjual dan pembeli mengisi pasar. Saya mendengar mereka bernegosiasi dengan berbagai bahasa. Bahasa Indonesia, bahasa Padang, bahasa Batak dan bahasa Jawa.
Iki piro, Mas?”
“Pitu ngewu, Bu.”
“Ah, larang sanget,”
“Yowes, gangsal lewu mawon, Bu.”

Lalu, si Ibu memberikan selembar lima ribuan untuk dua ikat kangkung dan dua buah jagung yang dia beli.

Para penjual dan pembeli bernegosiasi dengan berbagai panggilan. “Tujuh ribu aja deh, Bu”, “Beli lima aja ya, Bunda?” atau “Maunya jadi berapa, Mah?”. Pedagang yang belum mendapatkan calon pembeli berusaha merapikan barang dagangannya. Mengipas-ngipas, memukul-memukul, menata susunan barang yang dijual sambil mata mereka mencari kontak dengan para calon pembeli. Suara mereka berada di udara, menarik perhatian pengunjung pasar agar mampir ke kiosnya. Lagi-lagi dengan panggilan ‘sayang’ yang mereka buat sendiri. Saya pun memiliki banyak nama panggilan dari mereka. Neng, Kak, Dek, sampai dipanggil Cinta segala.

Mereka sungguh-sungguh bersemangat meskipun masih pagi. Saya mengabaikan panggilan tersebut karena memang tidak ingin membeli apa-apa. Saya berdoa agar mereka mendapat pembeli lain dan dagangannya sudah habis sebelum pukul tiga sore nanti.

Bau kue yang baru dimasak menarik penciuman saya, padahal si Abang penjual tidak memanggil-manggil dengan panggilan sayang. Saya pun tergoda membeli jajanan pasar. Kue pancong, kue cubit, dan kue pukis pun saya beli. Masih hangat dan lembut. Pas menjadi sarapan saya di pagi yang mendung ini.

You Might Also Like

0 comments