The Fault in Our Stars

Jumat, Januari 02, 2015


You can fall in love with anyone. Anytime, anywhere.

Hazel Grace Lancaster (saya suka banget nama ini), mungkin tidak pernah menyangka ia akan bertemu Augustus Waters di Support Group untuk anak-anak penderita kanker. Awalnya, Hazel tidak mau mengikuti Support Group tersebut, namun demi menyenangkan ibunya, ia pun mengikutinya walaupun dengan setengah hati. Hazel (16 tahun), menderita kanker tiroid. Penyakit ini pun telah menyerang paru-parunya sehingga Hazel sulit bernapas. Untuk membantunya bernapas, Hazel selalu membawa tabung oksigen kemana-mana.

Berbeda dengan Hazel, Augustus Waters menigidap ostheosarcoma yang mana membuat salah satu kakinya harus diamputasi. August sudah menyukai Hazel ketika pertama kali bertemu dengannya di Support Group. Dengan mata birunya, Ia tidak berhenti menatap Hazel. Ia memuji Hazel cantik, menurutnya mirip Natalie Portman. Gus — panggilan Hazel untuk August — ikut membaca buku favorit Hazel, An Imperial Affliction (AIA). Bahkan, Gus mengabulkan keinginan Hazel pergi ke Amsterdam untuk menemui penulis buku tersebut, Peter Van Houten.

Berawal dari setengah hati, Hazel bertemu laki-laki pengisi hatinya.
Sejak bertemu di Support Group, kedekatan mereka bertambah. Apalagi setelah August ikut membaca buku AIA. Mereka sering berdiskusi mengenai buku itu. And damn it, saya suka banget bagian ini. Seru banget ga sih diskusi buku sama orang yang kamu sayang? haha. Saya suka cerita The Fault in Our Stars (TFIOS) ini karena mengalir banget. Polos-polos remaja tapi romantis gitu…..Biasanya, novel dengan tema cerita seperti ini (di mana tokoh utamanya memiliki penyakit), kebanyakan menonjolkan dramanya. Cerita dibuat over romantis, jadi ketika endingnya menyedihkan, kita bisa menangis sesenggukan karena ikut merasakan sakitnya. Biasanya juga, saya pasti nangis heboh kalo baca cerita-cerita seperti ini haha.

Anehnya, itu tidak terjadi ketika saya membaca TFIOS. Yea, this is one of a tearjerker book. Iya, saya menangis ketika baca buku ini. Tapi tidak sampai sesenggukan. Menangis tanpa terisak. Biasanya setelah membaca buku sejenis ini, saya akan mengutuk penulisnya karena udah bikin cerita yang cruel dan saya jadi ikut gloomy sesudahnya. TFIOS, adalah buku yang setelah selesai membacanya membuat saya ingin mendoakan Hazel dan Gus supaya terus bahagia di manapun mereka berada. Meskipun saya tau mereka tidak real, tapi saya tetap ingin mendoakan hahahaha.

Saya suka banget hubungan Hazel dan Gus dibuat senatural mungkin. Suka banget sama gombalan-gombalannya August Waters tapi serius waktu ngomong itu ke Hazel. Dan…..saya suka banget cara Gus ketika memanggil nama Hazel. Ia selalu memanggil dengan nama tengahnya: Hazel-Grace. Mungkin banyak yang menyukai liburan Hazel dan Gus ke Amsterdam, tapi saya pribadi malah gasuka bagian itu. Okay, saya suka cerita itu, kurang romantis apa August mengabulkan keinginan Hazel untuk bertemu penulis buku favoritnya? Saya gasukanya ketika Peter Van Houten masuk dalam frame cerita. Mungkin karena saya tidak suka karakternya kali ya, makanya saya jadi sebel sama kemunculan dia hahaha.

By the way, menurut saya, John Green membuat cerita ini sesuai dengan porsinya. Ada cerita tentang teman, sahabat, dan juga keluarga. Seneng banget ngeliat dukungan dari orang tua Hazel, suka banget sama ibunya :) Ada komedinya, ada juga yang bikin nangisnya. Tapi sebenarnya, TFIOS tidak istimewa-istimewa banget juga sih. Saya senang pas baca buku ini. Ceritanya bagus, tapi tidak memberikan kesan mendalam untuk saya ketika selesai membacanya. Sebatas enjoy ketika membacanya saja.
“I’m in love with you,” he said quietly.
"Augustus," I said.
"I am," he said. He was staring at me, and I could see the corners of his eyes crinkling. "I’m in love with you, and I’m not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I’m in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we’re all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we’ll ever have, and I am in love with you.”

You Might Also Like

0 comments