Menjadi Dewasa

Jumat, Januari 02, 2015

Terjaga di sebuah malam biasanya memang membuat saya jadi banyak berpikir. Kemarin malam, ketika saya tidak bisa tidur, tiba-tiba saya ingin menjadi dewasa. Ya, dewasa. Growing up. Meskipun umur saya sudah 21 tahun, bagian menjadi dewasa ini adalah hal yang paling tidak saya sukai. Meskipun sudah 21 tahun, saya masih merasa seperti 18 tahun. Rasanya tidak mau tumbuh. Belum siap alasannya. Namun, kemarin malam, di tengah kepusingan hidup ini, saya akhirnya memilih untuk menjadi dewasa. Bukan terpaksa karena umur, tapi memang memilih. Mungkin, pepatah yang mengatakan, “Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa adalah pilihan,” benar adanya. Hahaha.

Kata ‘prioritas’ mungkin salah satu faktor yang akhirnya membuat saya berpikir seperti itu. Saya sudah tidak bisa lagi seenaknya. Sekarang, saya tidak bisa lagi melakukan ‘apa yang saya mau’ tetapi juga lebih memikirkan ‘apa yang saya butuhkan’ dan ‘apa yang harus saya lakukan’. Kalau saya mau begini, maka saya tidak boleh begitu. Ada tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan. Salah satunya adalah lulus kuliah secepatnya hahahaha. Maka dari itu, lulus di semester ini menjadi prioritas utama saya. Jadi, saya tidak bisa seenaknya banyak jalan-jalan atau beli buku di bulan-bulan ini. Ada yang harus diutamakan.

Menjadi dewasa, artinya harus berani memilih, kan?

Selain bertanggung jawab kepada orang lain, saya juga harus bertanggung jawab kepada diri sendiri. Rasanya harus membuang sifat kekanak-kanakan saya. Rasanya tidak perlu terlalu sering marah-marah karena hal kecil (Oke, sepertinya saya akan mencoba tidak marah-marah saat didorong ibu-ibu gila di kereta). Kasihan diri sendiri kalau sebentar-bentar marah dan stres. Nanti tambah cepat tua.

Menjadi dewasa, artinya harus lebih bisa menahan emosi.

Di akhir-akhir masa remaja, sepertinya saya jadi kurang bersyukur. Banyak mengeluh. Banyak iri. Sampai-sampai saya insecure berat sama orang-orang yang kehidupannya lebih baik dari saya. Selalu merasa kalah dan merasa diri sendiri paling buruk. Sepertinya, saya terlalu keras dengan diri saya sendiri. Dengan adanya proses pendewasaan ini, I’m trying to let go. Daripada selalu mengeluh untuk apa yang saya tidak punya, lebih baik menerima dengan ikhlas apa yang sudah saya punya sekarang. Dipikir-pikir, saya juga punya banyak kelebihan yang bisa saya banggakan. Saya punya apa yang mereka tidak punya. Toh, manusia memang tidak ada yang sempurna.

Menjadi dewasa, artinya bisa menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri.

P.s: Selamat tinggal, masa remaja! Gita sudah tua dan (bersiap) menjadi dewasa sekarang. Hahaha.

You Might Also Like

0 comments