Menelusuri Sejarah Indonesia Melalui "Petite Histoire"

Jumat, Januari 02, 2015


Membaca kisah sejarah, bagi sebagian orang mungkin membosankan. Saya ingat, ketika SMA, teman-teman saya males banget yang namanya belajar sejarah. Udah banyak materi yang harus dihapalkan, jam belajar yang sesuai dengan jam tidur siang, ditambah sang guru yang kalau menerangkan seperti sedang kumur-kumur. Lengkap sudah alasan kenapa teman-teman saya tidak menyukai sejarah.

Saya sendiri, sebenarnya menyukai cerita-cerita sejarah. Tapi, untuk membeli buku sejarah, saya selalu nggak rela. Untuk koleksi, saya lebih menyukai kisah sejarah yang diselingi dengan drama atau cerita fiksi. Jika benar-benar cerita sejarah (layaknya buku sekolah), saya lebih memilih pinjam di perpustakaan. Entahlah, menurut saya, novel sejarah di Indonesia ini kadang terlalu baku dan bahasanya membosankan.  Hanya bisa dibaca satu kali, tidak bisa dibaca berulang-ulang. Makanya saya nggak pernah mau beli.

Seri sejarah yang tidak membosankan menurut saya adalah buku Petite Histoire Indonesia karya Rosihan Anwar ini.

Jangan berharap bisa menemukan cerita sejarah seperti di buku teks sekolah. Seperti namanya, di “Petite Histoire” ini, yang ada hanyalah potongan-potongan sejarah kecil. Justru disitu menariknya, kita jadi lebih tau ada kisah-kisah lain di balik peristiwa besar sejarah Indonesia. Di jilid 1 ini, kebanyakan mengenai cerita sejarah Indonesia pada jaman pendudukan Belanda. Ada cerita mengenai perempuan-perempuan Belanda yang terpaksa melacur ketika Jepang mengambil alih kekuasaan, ada juga cerita tentang sahabat Prof. Snouck Hurgronje yang merupakan orang Indonesia. Sejarah kecil itu disusun oleh Rosihan Anwar melalui beberapa fragmen cerita. Kadang ia mengangkat kehidupan dari sudut pandang satu tokoh, mengingat Rosihan juga menemukan cerita kecil ini melalui buku harian warga Belanda jaman penjajahan. Atau, terkadang mengambil cerita dari masalah yang lebih besar. Ada cerita mengenai separatisme Timor Timur (yang membuat saya makin melek soal pelanggaran Hak Asasi Manusia).

Sebagai seorang mahasiswa jurnalisme, di kelas menulis, saya selalu diajarkan bagaimana caranya membuat lead in yang menarik. Lead-in adalah pembuka cerita yang memegang peranan penting dalam menarik perhatian pembaca. Jika lead in menarik, maka pembaca akan tertarik untuk terus membaca tulisan kita. Jika tidak, ya sebaliknya. Rosihan Anwar, sebagai jurnalis senior yang memiliki banyak pengalaman di bidang penulisan tentunya sangat tahu mengenai teknik ini. Terbukti beliau berhasil membuat pembuka cerita yang sangat menarik. Bukan sekedar cerita sejarah yang hanya membeberkan fakta saja, pada Petite Histoire ini seperti sedang ‘mendengarkan’ orang cerita tentang sejarah. Mengalir. Akhir cerita juga ditutup dengan kalimat-kalimat yang menarik.

Namun, di beberapa bagian saya terkadang menemukan kesulitan. Saya harus membaca ulang satu atau dua kalimat (atau bahkan satu paragraf) untuk dapat mengerti. Terlalu banyak nama-nama asing dan kata asing, terutama Belanda. Apalagi referensi Rosihan Anwar dalam menulis novel ini kan memang buku-buku sejarah Belanda. Tapi mungkin itu bukan salah Pak Rosihan Anwar sih, mungkin salah otak saya yang susah menerima kata-kata asing itu hahaha.

By the way, saya udah beli novel ini dari lama sebenernya, tapi baru sempet baca akhir-akhir ini. Kalau tidak salah, seri Sejarah Kecil ini udah sampai yang ke-lima. Saya sendiri punya sampai yang keempat tapi yang kebaca ya baru jilid 1 ini aja. Secepat mungkin saya akan membaca seri selanjutnya!

 "Sudah berapa waktu lamanya saya berpikir tentang bagaimana caranya membuat sejarah menarik bagi generasi muda. Sejarah yang tidak terdiri dari hanya rangkaian tahun untuk dihafalkan, tetapi yang dirasakan hidup dan bermakna untuk kehidupan zaman sekarang. Sejarah yang bukan barang “kering” semata-mata, melainkan suatu realitas yang terus bergerak dan layak dipahami dengan baik.” - Rosihan Awar on Petite Histoire

You Might Also Like

0 comments