Life Traveler: Menemukan Jalan Pulang Melalui Perjalanan

Jumat, Januari 02, 2015


Kebanyakan orang bepergian atau travelling untuk pergi dari rumah. Untuk sekedar melepas lelah dan kebosanan di tempat yang sama. Maka dari itu, pergi ke sebuah tempat baru merupakan ide yang bagus. Tapi tidak dengan Windy Ariestanty, melalui bukunya Life Traveler, ia menceritakan bahwa bepergian merupakan cara dirinya untuk kembali. Menemukan makna dari ‘rumah’ yang sebenarnya. Menurut Windy, seperti satu kalimat yang ia tulis dalam bukunya; “Kita hanya perlu menjauh sesaat untuk bisa kembali pulang.” ‘Rumah’ yang dimaksud disini bukan hanya menemukan rumah yang biasa kita tinggali, melainkan juga sebagai cara untuk menemukan diri kita sendiri.

Buku ini tidak sama dengan buku travel lainnya. Sebagian besar buku travel yang ada hanya menjelaskan panduan bagaimana bisa bertahan di perjalanan. Mulai dari rencana awal, tempat yang patut dikunjungi, biaya, hingga apa yang boleh dan tidak boleh dari suatu tempat yang ingin kita kunjungi. Buku Life Traveler ini menceritakan perjalanan yang dilakukan Windy Ariestanty dari sudut pandangnya. Bukan hanya menceritakan tempatnya saja tetapi juga orang – orang yang berada disana. Orang – orang baru yang ia temukan dalam perjalanan. Sesama backpacker, Nenek Rusia dan Kakek Australia, Miss Hang -- resepsionis di hotel tempatnya menginap, hingga Marjolein -- si pemandu wisata dari Paris yang sangat cinta Indonesia. Bagi Windy, perjalanan keliling dunia merupakan cara untuk mempelajari manusia dari belahan bumi lainnya.

Membaca buku ini rasanya seperti ikut dalam perjalanan yang dilakukan Windy. Gaya penulisan Windy yang mengalir membuat saya ikut hanyut dalam ceritanya. Gambaran tempat yang dideskripsikan Windy terpatri di otak saya, padahal saya belum pernah ke tempat tersebut sebelumnya. Bahasa yang digunakan bukanlah jejeran kalimat baku, tetapi bukan juga kalimat slengean. Windy berhasil membawa imajinasi pembaca ke tempat – tempat yang ia kunjungi. Meskipun begitu, tetap ada petunjuk – petunjuk dan tips dalam perjalanan. Seperti tips cara berkemas dan apa yang harus kita bawa saat perjalanan. Ada pula list tempat yang wajib dikunjungi dari Kuala Lumpur, Vietnam, Kamboja hingga Eropa Tengah.

Salah satu kekurangan dari buku ini adalah foto - fotonya yang menurut saya kurang menarik. Mungkin dipengaruhi pleh halaman yang tidak berwarna haha. Tetapi secara keseluruhan saya sangat menyukai cara penceritaan Windy yang berbeda dengan para travel writer lainnya. Ia berhasil membuat terobosan baru tidak hanya ‘memberitahu’ apa yang mesti dilakukan saat perjalanan, tetapi ‘menceritakan’ apa yang ia alami di perjalanan.

Berusaha mencari makna hidup dalam perjalanan, dan juga mencari sebuah rumah –- tempat untuk kembali.

You Might Also Like

0 comments