Di Planetarium, Melihat Bintang di Sore Hari

Senin, Januari 26, 2015

Rasa was-was menghinggapi saya siang itu. Suara anak-anak bersahutan di lantai satu Planetarium Jakarta. Menunggu orangtua mereka mengantre di depan loket yang bahkan belum dibuka. Saya was-was, khawatir kehabisan tiket masuk. Masa iya saya harus pulang lagi?

Rasa was-was itu saya rasakan ketika pertama kalinya saya ke Planetarium. Tahun 2010, saat saya kelas dua SMA. Teman-teman saya yang menemani saya hari itu mungkin sudah pernah ke sana waktu mereka kecil. Namun, bagi saya ini pertama kalinya. Saya ingat, saya mengajak teman-teman saya ke Planetarium pas liburan sekolah. Waktu itu, saya baru menonton film Thailand berjudul Bangkok Traffic Love Story. Mei Li dan Loong -- tokoh utama di film tersebut -- suatu hari mengadakan kencan di Planetarium. Menurut saya, adegan kencan di Planetarium itu romantis banget. Saya yang belum pernah ke Planetarium pun tertarik mengunjunginya. Bedanya, saya ajak temen saya saja karena tidak ada lelaki yang bisa diajak kencan saat itu hahaha.

Kunjungan pertama saya ke Planetarium sore itu berakhir menyenangkan dengan saya yang akhirnya mendapat tiket ke-190 dari 330 tiket yang tersedia. Kunjungan itu berakhir manis dengan saya yang takjub melihat bintang-bintang. Mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan narator, walaupun habis itu lupa lagi. Sejak saat itu, Planetarium menjadi tempat wisata favorit saya di Jakarta.

Mencari bintang di langit Jakarta itu susah sekali. Polusi udara dan lampu-lampu di kota metropolitan ini membuat bintang jadi tidak terlihat. Planetarium menawarkan alternatif untuk melihat bintang-bintang tersebut. Hmmm, sebenarnya Planetarium ini merupakan salah satu wisata edukasi di Jakarta mengenai astronomi. Namun bagi saya, Planetarium menjadi tempat saya mencari bintang di langit Jakarta. Melihat bintang di sore hari.

Untuk perorangan, dan di hari biasa, pertunjukan di Planetarium dimulai pukul 16.30 sore. Hanya ada satu kali pertunjukan. Namun, jika sedang liburan sekolah, pertunjukan bisa dilangsungkan dua kali, yakni jam 15.00 dan 16.30 sore. Saya belum pernah melihat bintang di Planetarium pada pagi hari. Saya selalu datang di pertunjukan pukul 16.30 saja.

Pertama kali datang ke Planetarium, saya menyimak setiap informasi yang diberikan narator mengenai tata surya kita. Mengenal rasi bintang, matahari, beserta delapan planetnya. Kunjungan berikutnya, saya masih sedikit menyimak, terutama tentang planet Mars. Sisa waktunya saya habiskan untuk mengkhayal. Pikiran saya sudah tidak berada di sana. Bintang-bintang tersebut seakan menghipnotis saya. Jadi kangen melihat bintang di gunung, jadi kangen jalan-jalan.


Lain hari saya datang lagi ke Planetarium. Kali ini, saya tidak mendengarkan penjelasan narator sama sekali. Saya sudah punya senjata yang saya bawa dari rumah: sebuah headset. Saya ingin melihat bintang-bintang itu sambil mendengarkan lagu.

All of The Stars dari Ed Sheeran saya pilih untuk menemani saya melihat bintang sore hari di Planetarium. Hilang sudah suara narator. Lenyap pula suara heboh dari anak-anak di sekitar saya yang takjub saat pertunjukan.

Rasanya hanya ada saya dan bintang-bintang saja kala itu. Dan dengan ketenangan itu, saya banyak berpikir soal hidup saya. Tiba-tiba mendapat jawaban dari pertanyaan yang akhir-akhir ini mengganggu saya. Maybe....those stars gave me the answers.
"And I know these scars will bleed
But both of our hearts believe
All of these stars will guide us home....."

You Might Also Like

0 comments