Berhitung

Jumat, September 19, 2014

Aku lupa sejak kapan jadi suka berhitung. Seingatku, aku paling benci dengan hitung-hitungan. Aku benci ketika kakakku membahas sejumlah angka rupiah yang harus ia keluarkan untuk mentraktir makan aku yang rakus ini. Aku benci ketika disuruh menarik uang patungan teman-teman karena malas menghitung receh-receh yang terkumpul. Sedari dulu, aku memang paling tidak suka pelajaran Matematika. Dan ketika kuliah, aku bisa sedikit lega karena tidak ada pelajaran hitung-hitungan di jurusanku. Aku terbebas dari angka-angka yang membingungkan. Aku berbahagia karena yang kutemui hanyalah huruf-huruf yang membentuk kata, kalimat, paragraf hingga membentuk kesatuan cerita. Ketika kamu datang, aku juga belum peduli dengan angka-angka. Aku hanya memperdulikan kata, kalimat, paragraf dan cerita yang kita bagi. Apa yang kita bicarakan, bagaimana kamu selalu membuatku nyaman dan mengapa kamu bisa jatuh cinta kepadaku. Yang aku pikirkan hanyalah kata-kata. Kata apa yang akan kugunakan untuk menyapamu. Apa kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan tentang perasaanku padamu. Bagaimana kalau aku salah bicara? Bagaimana kalau dia tersinggung dengan ucapanku? Yang kupikirkan hanyalah kata-kata. 

Aku ingat, suatu hari, ketika kamu pergi tanpa kabar, aku mulai berhitung. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan. Lalu kamu kembali dan kita bersama. Aku kembali berhitung. Aku ingat-ingat tanggal 25 setiap harinya. Tanggal yang menandakan kita menjalin hubungan bersama. Berhitung, entah untuk apa. Tapi, aku selalu senang ketika tanggal itu datang. Aku selalu senang mengingat banyaknya waktu yang kita habiskan untuk saling mengenal. 'Selamat satu bulan, Mas', 'Selamat 12 bulan, Sayang', dan hingga bulan ke 20 aku masih gemar menghitungnya. Sekarang tanggal 19, berarti 6 hari lagi kita 21 bulan bersama. Tiga bulan lagi kita 2 tahun.  

Aku tidak bisa berhenti berhitung. Aku  berhitung ketika menunggu kamu bangun tidur. Kalau kamu bangun pukul 5 pagi waktu London, ditambah 7, berarti di Jakarta pukul 12 siang. Lalu, kita akan berbincang sebentar mungkin sekitar 3 atau 4 jam sebelum aku dan kamu kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kamu biasanya akan muncul kembali pukul 9 malam waktu Jakarta atau pukul 2 siang di sana. Namun, jika kamu sangat sibuk, kamu akan muncul pukul 11 malam waktu Jakarta. Dan aku, harus bersabar menunggu 2 jam lagi yang rasanya seperti 2 tahun. Tik tok tik tok. Aku pun kembali tidak bisa berhenti berhitung. Dua jam lagi, sejam lagi, setengah jam lagi, 15 menit, 10 menit, 5 menit, 60 detik, 15 detik, 1 detik lagi. Lalu kamu datang. Dan kita akan berbincang selama mungkin. Sampai aku tertidur. Biasanya, kita bisa ngobrol sampai subuh. Pernah 12 jam nonstop, 7 jam, 5 jam, 3 jam, atau hanya sejam jika keduanya sibuk. Bahayanya, selain tidak bisa berhenti menghitung, aku juga jadi main hitung-hitungan. Aku  marah jika waktu ngobrol kita berkurang. 'Ke mana aja sih masa cari waktu ngobrol sejam aja susah!', 'Aku minta satuuuu hari aja dari 7 hari yang ada buat ngobrol banyak. Cuma sehari!'. Kaya ibu-ibu yang marahin anaknya karena kebanyakan main, ya? Lalu, kamu meminta maaf. Kadang membayar utang waktu ngobrol sebelum-sebelumnya. Walaupun kadang aku suka sengaja tidak membalas pesan kamu karena sebal, sejujurnya aku ingin sekali bilang: Bukan salah kamu, Sayang. Aku mengerti bahwa apa yang kamu lakukan sekarang, sampai-sampai membuatmu kelelahan dan kehabisan waktu, semuanya juga untuk aku. 

Aku tidak bisa berhenti menghitung hari. Anehnya, aku tidak merasa lelah. Dan aku tidak membencinya padahal dulu aku benci setengah mati dengan kegiatan hitung menghitung atau Matematika. Anehnya, aku jadi ingin berhitung terus. Menghitung hari kapan kamu pulang. Menghitung waktu kapan kita akan menikah. Empat tahun lagi? Lima tahun? Atau enam tahun lagi? Mungkin setelah itu, kita tidak akan berhenti menghitung juga. Kita pasti akan menghitung jumlah anak-anak kita yang banyak, bukan? Bukankah kamu mau punya anak 11? Kaya anak kucing dong, kaya anak ayam haha. Kaya tim sepakbola, kata kamu. Tapi kebanyakan ah, aku nggak mau, nggak mampu juga kayanya. Lima saja, ya? Oke, kita mau punya anak lima. Nanti bikin tim futsal, ya. Lalu, kita juga akan menghitung umur anak-anak kita yang beranjak dewasa. Setiap anak beda umurnya 2 tahun. Berarti, Si Sulung sama si Bungsu bedanya 10 tahun dong, ya? Nanti pasti dibadungin sama abangnya wkwkwk. 

Lalu, akan ada masanya di mana aku akan berhenti berhitung. Bukan karena kisah kita telah usai, tapi karena kita berdua sudah semakin menua dan lupa dengan waktu serta tahun-tahun yang ada. Karena sudah terlalu banyak bulan-bulan dan tahun yang kita lewati bersama. Yang kita punya bukan lagi angka-angka maupun kata-kata, melainkan berbagai kenangan yang memenuhi otak dan hati kita. Tidak ada ruang untuk menghitung lagi. Bukan lagi tentang: “Kita udah berapa lama ya bareng-bareng?”, yang akan kita tanyakan adalah: “Apa saja ya yang sudah kita lewatkan bersama?”, “Kamu inget ga waktu kita begini? Begitu?” Dan blab la bla……I really wanna grow old with you. Namun, untuk sekarang, aku masih ingin menghitung. Maka itu, cepat kembalilah. Aku menunggu. Because a day without talking to you is not a day for me

Cepat sembuh, Sayang.

You Might Also Like

1 comments

  1. Cepet sembuh Marcel, balik ke Indonesia nemenin Gita <3 Super wish a longlasting until forever for both of you! Smooch xoxo

    BalasHapus