Apa Kabar, Adik-adikku?

Kamis, Maret 20, 2014

Apakah kalian setuju kalau dunia orang dewasa itu menyebalkan? Kalau iya, berarti kalian sependapat dengan saya. Kebosanan akan rutinitas yang itu-itu saja, ketidaksukaan saya pada dunia orang dewasa, dan ketidakmauan saya untuk tumbuh, membuat saya bersembunyi di dunia anak-anak. Lebih tepatnya, di dunia Rumah Baca FISIP UI. Setiap hari Selasa dan Kamis sore, biasanya saya bermain dan belajar bersama anak-anak Rumba. Di sebuah musholla kecil di daerah Kukusan Teknik (Kutek), kami berbagi keceriaan. Dari sekedar membantu mengerjakan PR, menggambar dan mewarnai hingga membuat prakarya. Pernah juga latihan menyanyi atau drama jika anak-anak Rumba diminta untuk mengisi suatu acara. Saat bersama mereka, sekejap saya bisa melupakan kepenatan kuliah dan tugas-tugas. Saya bisa lupa kalau tadi habis diceramahin dosen karena tulisan kurang bagus. Tawa riang dan pelukan mereka saat menyambut saya lah penyebabnya. Kalau saya baru dateng, dari kejauhan mereka udah lari-lari nyamperin saya. Segerombol, teriak dari ujung jalan, "Kakaaaaaaaakkkk!!". Abis itu langsung rebutan salim sama peluk. It was a magical moment. 

Ah, sudah lama tidak bertemu mereka. Sudah lama tidak main dan belajar bersama. Sudah lama tidak mendengar pertanyaan lucu yang keluar dari mulut mereka, Sudah lama tidak bersembunyi dari tugas kuliah di balik tawa mereka. 




 Hai, kalian apa kabar? Kakak kangen.

***

Dari sekitar 6 bulan yang lalu, saya udah jarang ke Rumba lagi. Lama ya. Setengah tahun. Kami, pengurus Rumba memiliki masalah internal. Pertama, koordinasi di susunan kepanitiaannya emang kurang baik. Saya akui itu. Kedua, masalah tempat. Jadi, Ibu pemilik musholla baru saja mempunyai bayi. Dengan anak-anak Rumba yang cukup banyak dan berisik (maklum, namanya juga anak-anak), si Ibu pun jadi keberatan jika kami tetap mengadakan Rumba di tempat itu. Sebenarnya ini yang menjadi titik masalah terbesar. Otomatis kegiatan dan program-program kami lumpuh. Lapangan yang dulu jadi tempat kami bermain pun sekarang udah dibangun kos-kosan. Kadang, kami bermain di pos satpam yang ada di dekat situ, tapi sungguh tidak efektif karena tempatnya sangat kecil. Bingung. Semua pengurus Rumba bingung. Termasuk saya. Lama kelamaan, satu persatu pengurus pun pergi. Mungkin karena kesibukan masing-masing. Mungkin karena melihat ketidakjelasan di Rumba. Saya (mencoba) mengerti.

Karena pengurus internal tidak menemukan jalan keluar, saya mencoba meminta bantuan kepada BEM Sosmas FISIP UI karena mereka salah satu lembaga yang membangun Rumba itu sendiri. Hasilnya jalan buntu. Sebenarnya sudah malas membahas perdebatan tentang Rumba ini karena jatohnya akan main salah-salahan. BEM Sosmas FISIP beralasan bahwa Rumba sudah terminasi dengan BEM dan jadi komunitas, makanya mereka tidak bertanggung jawab terhadap Rumba lagi. Sedangkan pengurus Rumba tidak mengerti itu semua. Kami tidak pernah diberitahu dimana posisi Rumba, apakah di bawah BEM atau jadi komunitas. Lalu, saya bertanya, apabila sudah jadi komunitas, apa saja hak dan kewajiban kami, mereka tidak bisa menjawab. Saya meminta semua dokumen atau apapun yang terkait dengan Rumba, tetapi tidak ada. Lantas, jika ada masalah seperti ini, Rumba harus bagaimana? Apa yang harus kami lakukan? Harus mengadu ke siapa? Apakah ketika sudah jadi komunitas artinya semua masa bodoh dan tidak ada yang mau membantu lagi? Apakah langsung tinggalkan saja Rumba-nya padahal kita memiliki tanggung jawab sosial kepada warga dan anak-anak disana? Iya, begitu? Lagipula, dari awal mereka tidak pernah bilang kalau sudah lepas tangan dari Rumba. Namun, ketika ada masalah seperti ini, jawabannya selalu menggunakan kata pamungkas: "terminasi". Okay, mungkin ini adalah salah satu dampak ketidakjelasan dari koordinasi kepengurusan. Mungkin hanya kesalahpahaman. Saya (mencoba) mengerti.

Tapi, saya sudah tidak bisa mencoba mengerti lagi ketika suatu hari saya melihat spanduk besar berisi foto anak-anak di sepanjang lorong FISIP. Keterangan dari foto itu adalah anak-anak dari Atap Belajar Ceria (ABC) bagian dari Kampung FISIP, yang merupakan salah satu proker BEM Sosmas. Saya marah. Mengapa tidak berusaha memperbaiki Rumba di Kutek, tetapi malah memilih membangun rumah baca baru. Kesabaran saya sudah habis. Akhirnya marah lah saya sama sana sini. Marah ke pihak A, B, C dan D. Marah karena tidak ada yang mau mengurusi Rumba lagi. Marah sama diri saya sendiri atas ketidakmampuan saya mengelola Rumba sendirian. Marah karena saya juga belum bisa datang ke Rumba lagi hingga saat ini. Dan sekarang pun saya jadi takut. Takut jika anak-anak disana tidak bisa dekat dengan saya lagi karena sudah lama tidak bertemu. Takut mereka lupa dengan saya. Dan bahkan takut mereka membenci saya karena tidak pernah mengunjungi dan bermain bersama mereka. Mau nangis rasanya.

Pada akhirnya, saya membenci diri sendiri karena tidak bisa melakukan apa-apa. Karena tidak bisa memperjuangkan tempat untuk mereka belajar bersama. Pada akhirnya, kami jadi orang yang munafik. Kami yang meminta mereka semangat belajar agar bisa meraih cita-cita, namun secara tidak langsung kami juga menghancurkan kesempatan lebih yang mereka punya. Pada akhirnya, mereka harus mengecap pendidikan hanya dari sekolah saja karena tentunya tidak bisa ikut les tambahan di bimbel.

Maafin Kakak, ya.

You Might Also Like

0 comments