Cerita Dari Ciselang

Minggu, Februari 16, 2014

Definisi kebahagiaan itu luas, dan relatif untuk masing-masing orang. Ada yang bahagia ketika memiliki rumah dan mobil mewah, bahagia memiliki kekasih yang tampan dan mapan, juga bahagia ketika berhasil memenangkan proyek pekerjaan. Bagi yang lainnya, bahagia bisa sesimpel makan enak dan tidur nyenyak. Kebahagiaan bagi saya? Banyak. Saya bisa menjelaskan dari hal yang paling sederhana hingga hal yang paling spektakuler. Tapi ternyata, hal-hal yang terlihat  spektakuler belum tentu menjadi aspek kebahagiaan terbesar. Begitupun sebaliknya, hal-hal paling sederhana bukan berarti menjadi titik kebahagiaan terkecil.

Salah satu definisi kebahagiaan bagi saya adalah, jika dapat berlibur ke tempat yang menyenangkan. Saya lupa sejak kapan saya jadi gila jalan-jalan, tapi saya bisa tau saya sangat bahagia ketika melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain. Sayangnya, definisi kebahagiaan saya itu terbatas hanya ketika saya melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang memang terkenal indah. Tempat yang bisa menjanjikan pemandangan tak terlupakan. Makanya, ketika liburan, saya dan teman-teman selalu merencanakan perjalanan ke tempat-tempat yang menarik. Tempat yang merupakan destinasi wisata kebanyakan orang. Hal ini rutin kami lakukan setiap libur semester.

Namun, liburan kali ini berbeda. Saya menghabiskan liburan saya dengan teman-teman dari Gerakan UI Mengajar 3. Kami pergi ke Indramayu, bukan untuk jalan-jalan, bukan untuk berwisata, tetapi untuk melakukan aksi sosial.

Menumpang

Dua puluh lima hari adalah waktu yang ditentukan GUIM 3 untuk melakukan aksi mengajar. Saya ditempatkan di Dusun Ciselang, Desa Cikawung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Bersama 14 orang lainnya, saya melakukan tugas yang selama hampir satu tahun sudah kami susun. Sembilan orang panitian melakukan kegiatan sosial untuk warga disana. Sedangkan 6 pengajar terpilih mengajar murid-murid di SD Cikawung 2 Sekolah Jauh. 

Dua puluh lima hari saya "menumpang" hidup di tempat baru. Jauh dari rumah, jauh dari ibu kota. Jangan berharap ada mall, pasar tradisional aja jaraknya jauh sekali. Dari gang pertama kami masuk ke dusun Ciselang sendiri jaraknya 2 kilometer. Tiga puluh menit berjalan kaki dengan langkah cepat. Kalau jalan lambat, mungkin satu jam. Jarak satu dusun dengan dusun tetangga kira-kira 1 kilometer. Setiap dusun dibatasi oleh hutan dan sawah. Memang capek berjalan kaki, tapi pemandangan hijau-hijau dan suasana ademnya bikin rasa capek itu ilang. Dengan lebaynya, saya suka menghirup napas dalam-dalam pas ngelewatin hutan dan sawah, menghirup oksigen segar sebanyak-banyaknya! Di Jakarta mana ada udara sesegar itu hehe. Saya dan temen-temen kadang suka berhenti jalan untuk foto-foto di sawah dulu hahaha. Mengingat lokasi Ciselang yang sangat jauh dari kota, ga heran kalo sinyalnya susah banget wkwkwk.

Mata pencaharian utama warga Ciselang dan sekitarnya adalah bertani. Makanya banyak sawah hehe. Biasanya warga akan pergi ke sawah dari jam 6 pagi, lalu akan pulang ke rumah minimal ba'da Dzuhur dan maksimal pas Maghrib. Rutin setiap hari mereka lakukan. Tidak peduli hari Minggu, tidak peduli tanggal merah. Inilah sebabnya mengapa pada siang hari Ciselang sangat sepi. Semua warganya ke sawah soalnya. Selain bertani, mereka juga ngangon sapi dan kambing. Saya sering berpapasan dengan sapi dan kambing di jalan hahaha karena emang mereka dilepas gitu aja. Awalnya lucu moto-motoin sapi, tapi lama-lama serem karena sapinya ngeliatin balik trus pelan-pelan ngikutin kita wkwk ngeri diseruduk. Oh iya, jangan heran juga kalau ngeliat "ranjau" kotoran sapi dan kambing dimana-mana. Kalo nginjek ya jackpot :))) Selain sapi, kambing, dan ayam yang berkeliaran, di Ciselang juga banyak anjing. Warga Ciselang dan sekitarnya emang suka melihara anjing. Bukan buat jadi pelihara unyu-unyuan, tapi buat ngusir babi hutan di lahan mereka. Jadi, di Ciselang juga masih banyak babi hutan ternyata ha ha ha (tapi Alhamdulillah ga ketemu). Babi yang berhasil ditangkep biasanya mereka jual. Kalau babinya gede banget bisa dihargain 2 juta lho! Warga yang pernah nangkep, excited banget waktu nyeritain ini :)

Sebagai humas, saya bertugas untuk home visit ke rumah warga. Mengobrol dengan warga sekitar, mencoba mengenal mereka lebih jauh sekaligus minta izin karena kami tamu disana. Banyak cerita seru saya dapat. Dari cerita senang sampai sedih. Dari cerita seorang Ibu yang sangat bangga terhadap anaknya sampe cerita sedih dari seorang Ibu yang baru kehilangan anaknya. Dan dari setiap cerita yang keluar dari mulut mereka, saya belajar banyak. Belajar menghargai, belajar menerima, belajar bersyukur. Ada kekuatan baru di dalam diri saya setelah melihat bagaimana mereka berjuang sehari-hari. Mungkin terdengar klise, tapi saya merasa hidup. Lebih hidup dari yang sebelumnya.

Saya mendapatkan satu titik kebahagiaan, di tempat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Sekolah

Sesuai dengan namanya, yang difokuskan dari Gerakan UI Mengajar adalah kegiatan belajar-mengajar di sekolah dasar yang bisa dibilang terpencil dan kekurangan. Baik itu kekurangan fasilitas fisik, maupun kekurangan sumber daya manusia. Di titik 1, sekolah yang dipilih adalah SD Cikawung 2 Sekolah Jauh.Ya, sekolah jauh. Sekolah induknya berada di dusun lain yang lumayan jauh dari Ciselang. Dan dengan bangunan sekolah yang lebih baik. 

SD Cikawung 2 Sekolah Jauh berdiri satu bangunan dengan SMP Negeri Satu Atap. SMP memiliki dua ruang kelas (karena memang baru berdiri 2 tahun jadi baru ada 2 angkatan), sedangkan SD hanya memiliki 3 kelas yang layak. Ruangan pertama di SD dibagi 3, yakni untuk kelas 1, kelas 2, sekaligus ruang guru dan rak buku. Kelas 5 dan kelas 6 masing-masing menempati satu ruangan kelas sendiri. Sementara itu, kelas 3 dan 4 harus rela belajar di ruang kelas yang terbuat dari bilik bambu. Yang lantainya masih semen, dan atapnya ada yang bolong. Maka, ketika hujan turun, anak-anak pasti terkena tetesan hujan dan ruangan kelas pun basah. 

Lapangan sekolahnya pun tidak terlalu besar. Yaaaa kalau untuk main semua siswa SD dan SMP rasanya tidak cukup. Lapangannya tidak di semen atau beraspal. Kalau musim kemarau, lapangan tersebut akan menimbulkan debu yang sangat banyak ketika diinjak. Dan ketika musim hujan seperti bulan Januari kemarin, tanahnya sangat becek dan benyek. Jika bermain disana, siap-siap kakinya bakal kotor dan berlumpur. Meskipun ada dua kamar mandi di sekolah -- satu untuk guru dan satu untuk siswa -- tetap saja kamar mandi tersebut tidak dapat digunakan karena airnya tidak pernah ada. Apabila ingin menggunakan kamar mandi, ya harus mengangkut air dari MCK umum di belakang sekolah. Begitulah sekilas mengenai bangunan fisik SD Cikawung 2 Sekolah Jauh.

Berbicara mengenai sumber daya manusianya, guru di SD ini ada 4 guru kelas dan 1 guru olahraga. Waktu saya survey kesana pada bulan Agustus lalu, banyak guru yang tidak datang. Entah apa alasannya. Anak-anak jadi bebas main kesana kemari karena tidak ada gurunya. Saat kami melakukan aksi mengajar di bulan Januari, sedikit ada perbaikan. Walaupun terkadang guru-guru tersebut tidak datang ke sekolah dengan alasan hujan dan sebagainya. Datang pun, kadang suka telat. Mengingat peran mereka selama 25 hari digantikan oleh pengajar dari GUIM, maka hal tersebut tidak terlalu bermasalah karena anak-anak dipegang oleh pengajar. Namun, ketika para pengajar GUIM tidak ada lagi, apakah mereka tetap tidak datang ke sekolah? Lalu, anak-anak tidak belajar lagi? Masih banyak anak yang belum mengenal huruf. Maih banyak anak-anak yang tidak bisa menulis namanya sendiri. Masih ada anak kelas 3 yang belum lancar berhitung. Masih ada anak kelas 4 yang belum lancar membaca. Dan ada anak-anak kelas 6 yang akan mengikuti Ujian Nasional. Saya berharap semoga hal itu tidak ada lagi. Semoga guru-guru disana lebih rajin datang ke sekolah dan mengajar, apalagi saat aksi kemarin mereka sudah diberi pelatihan. Semoga saat ini sudah lebih baik.

Begitulah potret sekolah di desa-desa terpencil. Masih banyak kekurangan sana-sini. Entah salah siapa. Sedangkan di kota, bangunan-bangunan sekolah dasar berdiri megah. Pelajarannya bermacam-macam. Lengkap dengan Bahasa Inggris juga tambahan ekstrakurikulernya. Di SD Cikawung 2 Sekolah Jauh, buku aja mereka ga ada. Sedihnya, ini jadi alasan orang tua ketika anaknya malas belajar, "Buku aja nggak ada, ya mau belajar darimana?". Toko yang menjual buku pelajaran juga nggak ada. Miris. Semoga buku-buku yang teman-teman UI sumbangkan di #Gerakan1000Buku bisa berguna untuk semua murid-murid disana.

 Karena, saya yakin, anak-anak hebat akan lahir dari sana.

Anak-Anak Lucu dan Hebat

Bisa dibilang, salah satu motivasi saya ikut GUIM adalah karena pingin ketemu anak-anak. Meskipun saya bukan pengajar dan waktu saya dengan anak-anak sedikit, bukan berarti saya tidak bisa mengenal dan bermain bersama mereka. Kadang saya suka main ke sekolah dan setiap hari Sabtu pun selalu ada Pengembangan Diri. Saya bertugas untuk menjadi fasilitator dan ini cara saya dekat dengan mereka. Banyak anak-anak lucu dan hebat disini. Ini baru paragraf pertama, tapi saya sudah mau bilang kalau saya senang mengenal mereka.
Kalau disuruh menyebut nama anak-anak hebat ini satu per satu rasanya post ini tidak akan cukup. Tulisan apapun juga rasanya tidak ada yang pas untuk menggambarkan mereka. Saya suka semangat mereka. Semangat anak-anak. Waktu mereka dengan hebohnya manggil saya, narik-narik saya, salim, meluk saya. Waktu mereka semangat ngajakkin main jempol, main tepok mi, ngajakkin ke Cadas Ngampar sampe saya dikelilingin. Waktu mereka ceria nyanyiin semua lagu yang diajarkan juga tarian-tarian lucu. Waktu mereka excited untuk setiap acara yang kami adakan. Belajar cuci tangan dan sikat gigi, nyusun puzzle profesi, serta bikin celengan dari botol-botol bekas. Saya pernah membaca kalimat yang mengatakan bahwa anak-anak itu tulus. Dan ya, saya percaya itu. Apa yang mereka rasakan, apa yang mereka lakukan semuanya terlihat tulus. Jika mereka senang, maka mata mereka akan berbinar. Terlihat jelas. Tidak ada kepura-puraan.

Mungkin hubungan saya dengan mereka tidak terlalu dekat. Mungkin rasa sayang mereka ke saya juga berbeda dengan rasa sayang ke guru-guru mereka. Tapi yang pasti, saya ga akan lupa sama mereka. Sampe di rumah pun rasanya pingin main sama mereka lagi huhu. Semoga ada waktu untuk bisa kesana lagi.
****

Di Ciselang, saya banyak belajar. Cara saya memandang hidup juga sedikit berubah. Termasuk cara saya memandang definisi kebahagiaan. Tenyata, kebahagiaan tidak ditemukan di tempat-tempat wisata saja. Di Ciselang yang tanahnya jeblok kalo abis ujan pun saya bisa nemuin kebahagiaan. Ini ga bohong, ini ga gombal. Maafkan kata-kata saya yang terkesan sok dramatis, tapi.....ya memang begitulah. Tiga hari berturut-turut menjelang kepulangan saya nangis. Pertama, saat Pesta Rakyat dimana kami menyanyikan lagu Sahabat Kecil sebagai salam perpisahan. Kedua, waktu pamit sama Ibu dan Bapak, orang tua kami selama 25 hari disana. Ketiga, waktu hari H pulang. Bukan cuma kita aja yang nangis, tapi anak-anak dan warga juga ikut nangis saat mengantar kami. Iya, rasanya berat sekali meninggalkan apa yang udah jadi kebiasaan. Bukan artinya tidak rindu rumah, tapi bener-bener nggak mau ninggalin mereka.

Beberapa hari sebelum ke Ciselang, saya sedang down dan mempertanyakan apa arti kebahagiaan. Saya mulai main itung-itungan. Saya bertanya-tanya untuk hal yang saya ga punya daripada mencoba mensyukuri apa yang ada. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa apa yang bisa membuat bahagia tidak selalu hal yang mewah dan prestisius. Saat disana, saya merasa bahwa saya melakukan satu hal yang benar. Pertama kalinya dalam hidup, saya merasa hidup saya berarti. Bahwa setiap senyuman dari mereka membawa satu harapan untuk saya: agar lebih berguna untuk orang lain. Karena, semewah-mewahnya harta yang kamu punya, secantik-cantiknya wajah yang kamu punya, sepintar-pintarnya otak kamu, tidak akan ada artinya kalau kamu sendirian. Seindah-indahnya pemandangan di tempat wisata, semegah-megahnya bangunan di luar negeri, tidak akan ada artinya kalau kamu melihatnya sendirian. Terpencilnya tempat yang kamu kunjungi, sesederhana-sederhananya makanan yang kamu makan, akan tetap terasa menyenangkan jika berbagi dengan yang hidup. Bagaimanapun juga, yang hidup akan lebih berharga daripada benda mati. 

Dari yang hidup, kamu bisa banyak belajar.

"It's great to be happy, 
but it's even better to bring happines to others." -Rara Sekar

You Might Also Like

1 comments