Vesakh in Borobudur 2013: Supercrowded

Rabu, Juli 17, 2013

Sebenernya agak telat ya kalau gue baru nulis ini sekarang. Perayaan Waisak di Borobudur pada tahun 2013 berlangsung pada bulan Mei kemarin, dan sekarang sudah Juli hahaha. Tapi gapapa, gue tetep mau menceritakan pengalaman gue pas dateng kesana. Hmmmm sebenernya apa yang mau gue tulis disini sebenernya juga sama seperti tulisan orang - orang lainnya yang sempat datang kesana juga kemarin. Mereka semua membahas bagaimana ramainya perayaan Waisak disana dan tentunya.............sedikit komentar dan keluhan atas kelakuan para pengunjung yanng terkesan tidak menghormati umat Buddha yang sedang merayakan hari sucinya di Borobudur.

Well.......apa yang semua orang katakan itu benar sih. Ya, kalau kalian pernah membaca tulisan di blog atau heboh - heboh di media sosial tentang perayaan Borobudur kemarin, gue bisa mengatakan kalau apa yang disebutkan memang benar. Mulai dari pengunjung yang super banyak. Iya, rame banget! Setiap nengok kanan dan kiri pasti selalu jempetan sama orang. Sampai sesak. Gue emanng orangnya nggak tahan dengan lingkungan yang crowded banget gitu. Makanya kemarin bawaannya bete terus disana. Bermacam orang ada kali disana. Mulai dari anak kecil, anak muda, ibu - ibu, bapak - bapak, dan orang lanjut usia ada disana. Tapi........ya kebanyakan emang anak muda yang ceritanya traveler gitu dan penasaran sama perayaan Waisak di Borobudur. Ya seperti gue - gue inilah rata - rata disana wkwkwk. Seriously, hampir semua temen gue kesana aja lho. Mulai dari yang kuliahnya emang beneran di Jogja makanya deket kesana sampe yang di Jakarta juga bela - belain kesana. Bahkan pas di kereta juga isinya seumuran gue semua. Bisa ditebak, semuanya memang berencana pergi ke Borobudur untuk melihat Waisak lho. Selain berbagai umur, berbagai agama dan budaya juga kayanya disini semua. Bukan hanya umat Buddha saja. Bisa dibilang justru banyakan pengunjung yang non Buddha daripada orang Budhhanya sendiri. Saking ramenya, gue bahkan sempet kepisah dengan teman - teman gue............

 Ampe atas orang semua itu isinya. Ya lu kata ape dah git emang



Yap, saking banyaknya pengunjung sempet ada komentar - komentar kan katanya perayaannya jadi kurang sakral. Gue merasakannya sih. Jadi hingar bingar. Padahal yang gue bayangkan sebelumnya adalah suasana sepi, damai, tentram. Bukan grasak grusuk begini. Apalagi ketika ditambah hujan pada malam harinya, wah super chaos. Banyak yang ngeluh karena ujan gede. Teriak - teriak nyorakkin menteri yang datang terlambat. Flash kamera sana sini yangg nggak berenti - berenti, bikin kepala pusing. Apalagi ketika para bhante mau melakukan Pradaksina -- ya Tuhan......semuanya langsung maju berebutan pingin liat. Dan katanya, para bhante bahkan sampe ada yang keinjek kakinya. Itu yang gue baca dari salah satu blog pengunjung yang berkunjung kesana juga. Sedangkan gue, justru malah mundur ke belakang karena pusing dan langsung nyari temen gue yang kepisah tadi. Cuma bisa geleng - geleng kepala ajasih. Belum lagi ketika diumumkan kalau Flying Lantern gajadi diterbangkan karena masih hujan terus. Suara sorak sorai rame terdengar, nada - nada kekecewaan keluar dari mulut mereka. Alasan gue kesana juga sebenernya karena pingin liat Flying Lantern ala - ala Tangled gitu kan hahaha tapi yaudah apa daya. Yang ada di pikiran gue saat itu cuma pingin cepat keluar darisana karena udah keujanan, kedinginan, pusing, laper, dan jengkel setengah mati karena jalan - jalannya pas disana tadi pisah sama temen - temen gue. 

Hmmm dan soal ribut - ribut 'fotografer yang tidak sopan' itu, gue tidak melihat kejadiannya seperti apa sih. Nggak ketemu juga dengan pelaku di foto yang beredar di sosial media itu haha. Tapi ya, memang disana banyak kok yang seperti itu. Mungkin hanya niatnya mendapatkan foto yang bagus, tapi caranya salah. Super salah sih kalo pake pakaian tidak sopan, naik ke batu candi, sedangkan di bawahnya sedang ada umat Buddha yang sedang berdoa. 'Dimana toleransi?' begitu seru semua orang ketika melihat gambar tersebut. Yang gue saksikan sendiri adalah, bagaimana dengan brutalnya mereka maju ke depan, berdesak - desakkan, di tengah berlangsungnya upacara -- can you imagine that? Lalu tambah kesal ketika melihat sekelompok anak muda, dengan gaya remaja zaman sekarang (si cowok kemeja kotak - kotak, si cewek kaos dan hotpans) menertawakan doa - doa yang sedang dilafalkan umat Buddha. Kepala mereka goyang ke kanan dan ke kiri dan diikuti gaya seakan - akan mereka sedang menyanyikan lagu rap. Gue juga nggak ngerti itu bahasa mana dan apa artinya. Tapi, itu doa lho. Mereka sedang berdoa. Bisa - bisanya doa dijadikan bahan bercandaan dan tertawaan. 

Jujur sedikit merasa bersalah karena awal tujuan gue kesana cuma karena pingin liat lampion terbang ala Flynn dan Rapunzel, bukan karena Waisak itu sendiri. Well, gatau juga apakah disana gue juga ternyata melakukan hal yang kurang sopan kepada mereka, hal - hal yang gue lakukan secara tidak sadar misalnya. Tapi sesungguhnya dapet pelajaran berharga banget sih dari kemarin itu. Sebelumnya nggak pernah bermasalah dengan toleransi beragama dan tetek bengeknya, tapi ketika kemarin dikasih tontonan begitu, wah........mikir ulang apa sih makna toleransi sebenarnya dan harus bagaimana diterapkannya. Contoh - contoh mulai dari hal kecil seperti yang dijelaskan di buku PPKN waktu kelas 1 SD sudah jelas kan? Harusnya ya.

Ah sotoy lu, Git.

p.s: all photos taken by Deka karena pada saat itu kamera berat gue dia yang megang (bawain) wkwkwkwk

You Might Also Like

0 comments