Cerita Berkirim Kartu Pos di Tengah Kemajuan Teknologi

Senin, Juni 17, 2013

Mencari Sahabat Pena
Kartu Pos bisa membuat Kartini bertemu dengan sahabat pena dari Belanda dan membuka jalan baginya untuk mengenal dunia – bahkan bisa membawa perubahan untuk Indonesia. Dahulu sebelum teknologi komunikasi secanggih sekarang ini, saling memberi kabar dan berkomunikasi dengan orang yang jauh dilakukan dengan kartu pos. Namun bagaimana dengan sekarang? Masih adakah orang – orang yang berkirim surat melalui kartu pos meskipun banyak media sosial yang canggih seperti Facebook, Twitter, Watsapp, Line, dan sebagainya? Jawabannya: ada.
Sebut saja Card To Post, sebuah komunitas yang menyediakan tempat untuk orang yang gemar berkirim surat melalui kartu pos. Berawal dari ide Rizki Ramadan (25), Card To Post terbentuk pada 17 November 2011. “Awalnya berupa proyek iseng – isengan,  ingin mengajak temen – temen kreatif bertukar karya. Nah, medium yang terpikir adalah kartu pos. Kebetulan saya juga suka motret, jadi ingin membagi karya saya ke temen – temen, tapi lewat kartu pos” ujar Rizki. Selain itu, Ia juga ingin meremajakan budaya berkirim kartu pos yang saat ini mulai ditinggal seiring berkembangnya teknologi.
Cara bergabung dan menemukan sahabat pena melalui komunitas ini cukup mudah, hanya perlu mengisi data diri di website Card To Post. “Cukup daftar aja kaya di media sosial umumnya. Sesimpel itu. Nggak ada kriteria khusus” kata Rizki. Namun, Card To Post menganjurkan agar  kartu pos yang dikirimkan ke sahabat pena harus merupakan kreasi sendiri. Hasil kreasinya pun bisa berupa hasil gambar, desain, dan bahkan hasil jepretan foto sendiri. Cara membuat dan mencetaknya pun bisa dilakukan sendiri menggunakan komputer di rumah.  Menurut Rizki, dengan adanya kreasi dari si pengirim maka jadi ada nilai lebih dari kartu pos itu. Tidak hanya berkirim pesan saja. “Kalau sekedar berkirim pesan, itu bisa dilakukan dengan media digital lain.” 
Rizki mengatakan, berkirim kartu pos memang riskan karena pengiriman pesan yang lebih lama dari media lainnya. Rizki pernah menerima kartu pos empat bulan setelah pengiriman, padahal seharusnya paling lama hanya seminggu. Selain itu, ia pun pernah menerima kartu pos yang sudah lusuh akibat perlakuan pak pos yang tidak baik. Si pak pos tidak menyampaikan kartu pos ke penerima tetapi hanya diletakkan garasi, jadilah kartu pos terinjak – injak. Pengalaman kartu posnya yang tak sampai ke tangan sahabat penanya pun sudah pernah ia rasakan. “Sering banget. Udah nggak keitung.” ujar Rizki sambil tertawa.
Meskipun begitu, ada sisi menyenangkan dari berkirim kartu pos. Ketika menerima kartu pos dari sahabat pena yang sangat bagus dan kreatif rasanya sungguh menyenangkan. Pengiriman kartu pos yang memerlukan waktu lama pun memberikan sensasi menyenangkan tersendiri bagi Rizki. Ia menyukai rasa deg deg ser ketika menunggu kiriman kartu posnya datang. “Kita jadi kepikiran apakah kartu pos kita sampai atau nggak. Jadi menunggu – nunggu pak pos dateng ke rumah.”
Selain saling berkirim kartu pos dengan sahabat pena, Card To Post juga sering mengajak orang lain untuk berkirim kartu pos kreatif, biasanya dalam sebuah acara tertentu. Card To Post pernah membuat program “1000 Kartu Pos Untuk Presiden” yang mengajak orang – orang untuk menyampaikan aspirasi kepada Presiden dalam bentuk kartu pos. Lalu, ada juga program berupa “Kartu Pos Berantai” yakni permainan membuat satu kartu pos secara berantai oleh tiga peserta. Sering pula Card To Post membuka stand atau booth untuk berbagi cerita dengan komunitas lain, juga mensosialisasikan dan mengajak orang lain ikut bergabung dan berkirim surat dengan kartu pos. 

Kartu Pos Ungkapan Cinta
            Jika di Card To Post kita bisa mencari sahabat pena untuk saling berkirim kartu pos, lain halnya dengan Azka Odvilia Vyanda (21) dan Fanny Nur Andini (19). Kedua perempuan ini hanya mempunyai satu sahabat pena yang merupakan kekasihnya masing – masing. Perbedaan jarak dan budaya membuat mereka iseng memutuskan untuk saling berkirim kartu pos, meskipun komunikasi rutin tetap dilakukan melalui sms atau chatting. Azka dengan kekasihnya di Belanda, sementara Fanny dengan kekasihnya di Jogjakarta. “Abis lucu. Suka aja sama gambar yang ada di kartu pos. Jadi iseng deh janjian buat saling kirim kartu pos” ujar Fanny.
            Hal yang sama juga disampaikan oleh Azka, baginya berkirim kartu pos merupakan hal seru. Selain itu, kartu pos lebih otentik karena ada wujud nyatanya dan terkesan lebih mendalam. “Kalau chatting kan bisa kena virus segala macem terus percakapannya hilang. Sedangkan kartu pos ada kenangannya dan bisa diunjukkin kaya gini.” kata Azka sembari menunjukkan koleksi kartu pos dari kekasihnya.
            Meskipun senang mengumpulkan perangko sedari kecil, namun hobi berkirim kartu pos Azka muncul kembali pada tahun 2010 saat menerima kartu pos dari kekasihnya. Kartu pos pertamanya bergambar Piazza Navona, dikirim pada saat sang kekasih sedang transit di Italia sebelum kembali ke tempat tinggalnya di Belanda. Ada juga kartu pos yang berasal dari Roma, Amsterdam, Kuala Lumpur, Utrecht, Brussel, dan Istanbul. Kebetulan, dua – duanya memiliki hobi travelling. Jadi, kartu pos yang dikirim pun biasanya merupakan kartu pos dari tempat yang sedang mereka kunjungi. Isinya pun berupa cerita masing – masing saat liburan, dan harapan untuk menghabiskan kegiatan bersama di tempat tersebut. “Seneng bisa dateng ke tempat yang ada di gambar kartu pos. Sambil travelling sambil ngoleksi kartu pos deh.”
            Hambatan yang ditemui pun sama, yakni keterlambatan pengiriman dari kantor Pos Indonesia. Azka mengatakan, seringkali pengiriman tidak sesuai dari jadwal yang dijanjikan. “Tapi biasanya sih, kalo dari Jakarta ke Belanda cepet hanya dua atau tiga minggu. Yang lama itu kalo dari Belanda kesini, bisa lebih dari tiga bulan. Malah duluan orangnya yang nyampe kesini saat liburan musim panas daripada kartu posnya”.

Begitu pula dengan Fanny, kiriman kartu pos dari kekasihnya di Jogjakarta pun belum sampai hingga sekarang. Padahal, sudah dikirim semenjak dua bulan yang lalu. Meskipun begitu, Fanny mengaku tetap akan berkirim kartu pos. “Bakal tetep ngirim meskipun agak terhambat, justru disitu sensasi serunya,” kata Fanny. Namun, Fanny menyarankan agar kantor Pos Indonesia tetap memperbaiki sistem pengirimannya. “Walaupun murah tapi mesti tetep ada perbaikan di pelayanannya. Biar nggak kalah dari agen pengiriman lainnya” ujarnya. 


Second published on Radar Depok (Sunday, June 2 2013) wkwk. Sebenernya ngirim2 tulisan ke koran gini karena ada tugas dari dosen aja sih yang mengharuskan tulisannya masuk koran. Setelah ini gatau deh bakal kirim2 ke koran lagi atau nggak. Eiya, pas di-publish pas banget tanggal ultah Mama lho hehe. Halo Ma, anaknya udah bisa nulis di koran lho hahahaha udah deket ke mimpinya jadi seorang jurnalis. Sekalian kado buat Mama deh wkwk :)

You Might Also Like

2 comments

  1. artikel yang bagus..
    saya juga pengen membuat kartupos sendiri.

    salam kenal

    Helvry

    BalasHapus
  2. Hehe terimakasih. Bisa bergabung di Card To Post mungkin untuk mencari sahabat pena. Salam kenal juga, Helvry! :)

    BalasHapus