Shattered Glass (2003)

Rabu, Desember 19, 2012


"There are so many show offs in journalism. So many braggarts and jerks. They are always selling, always working the room, always trying to make themselves look hotter than they actually are. The good news is, reporters like that make it easy to distiguish yourself. If you are even a little bit humble, a little self-effacing or solicious -- you stand out. 
Some reporters think it's political content that makes story memorable. I think, it's the people you find. Their quirks, their flaws, what makes them funny, what makes them human. Journalism is just the art of capturing behaviour. You have to know who you are writing for. And you have to know what you're good at. 
I record what people do. I find out what moves them, what scares them, and I write that down. That way, they are the ones telling the stories. You know what? Those kind of pieces can win Pulitzers too." 

Kata - kata tersebut diucapkan oleh  Stephen Glass. Ia merupakan salah satu jurnalis di The New Republic, juga sebagai penulis tidak tetap di majalah Rolling Stone, Harper's and George. Karirnya melesat padahal ia baru berumur 25 tahun. Yea, who doesn't love Glass? Pintar, menarik, humoris, sukses. Ia disukai semua orang di The New Republic. Tulisan - tulisan Glass selalu bisa membuat orang terkesan.

Tak terkecuali tulisannya yang berjudul 'Hack Heaven'. Artikel ini mengisahkan tentang seorang hacker muda bernama Ian Restil dan bagaimana Ian memeras perusahan yang  ia hack dengan berbagai permintaan. Berita dalam artikel tersebut mengundang banyak perhatian sehingga membuat salah satu editor Forbes memarahi jurnalisnya karena tidak bisa membuat berita seperti yang dibuat oleh Glass. Wartawan Forbes tersebut pun iseng googling tentang Ian Restil dan perusahaan Jukt Micronics. Ternyata, ia tidak dapat menemukan apapun yang terkait dengan berita tersebut.

Yap, kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Ian Restil, hacker, perusahaan Jukt Micronics tidak pernah ada. Itu hanyalah khalayan dan berita palsu yang dibuat oleh Glass sendiri. Setelah diusut, ternyata diketahui bahwa 27 dari 41 tulisan Glass untuk The New Republic ternyata hanya merupakan karangan saja. Permainan kata - katanya sendiri. Sepandai - pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Dan artikel 'Hack Heaven' lah yang membuat Glass jatuh. Membuka semua kebohongannya selama ini.

Kok bisa sih ga ketauan? Dua puluh tujuh berita gitu? Dalam film ini diceritakan karena tulisan dan prestasi Glass, serta tingkah lakunya yang selalu menyenangkan membuat hal tersebut tertutup dari mata pemimpin, editor, dan teman - temannya. Glass selalu berbohong dan berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya sehingga akhirnya semua orang pun percaya. Ketidaktelitian Michael Kelly (editor Glass) juga menjadi salah satu alasan mengapa artikel Glass bisa lolos. Apabila ada pengaduan tentang kebohongan dari berita yang ditulis Glass, Kelly selalu meminta klarifikasi dari Glass dan tentu saja dijawab dengan kebohongan. Ia selalu percaya dan mem-back up Glass tanpa cek dan ricek mengenai berita tersebut lebih lanjut. 

Film ini gue tonton di kelas Meliput dan Menulis Berita I. Maksudnya kita suruh analisis isi dari film ini hmft hahaha asik - asik nonton taunya disuruh ngaitin sama buku Elemen - elemen Jurnalisme wakakakak. Yaaaa pasti udah tau kan pasti kalo apa yang dilakukan Glass ini sangat menyalahi aturan jurnalisme. Nilai utama seorang jurnalis adalah mengabarkan berita sesuai fakta. Gak bohong. But what did he do~~~ Nambahin opini kita barang satu kata aja kalo bisa gaboleh, apalagi kalo bener - bener bohong dan fiktif begitu beritanya.

Well, sama seperti semua orang di The New Republic, gue juga tertipu sih sama Glass ini. Dari awal dimulai film ini bener - bener dibuat jatuh cinta sama Glass. Dia yang pinter, humoris dan humble. Bener - bener cool karakternya. Apalagi pas di awal film dia ngomong kata - kata yang udah gue tulis diatas tadi, menyentuh jiwa dan gue senyum - senyum sendiri. Gue bahkan berpikir I'm gonna marry man like that hahahaha. Ditambah, yang meranin Hayden Christensen ajadongggggggggggg. Gue gabisa kalo ga meler liat filmnya Hayden. Ini lagi dia meranin jadi sosok geek cool smart boy gitu ah pingsan banget hahaha. 

Tapi terus.....................seiring berjalannya film, tokoh Glass berubah menjadi sosok yang dibenci.  Ini sekelas pas nonton langsung 'Ih apaan sih.', 'Ih kok dia gitu sih.' huahaha. Iya, tiba - tiba Glass berubah menjadi sosok annoying. Apalagi pas dia terus bohong buat menutupi kebohongan yang lain. Ah alesan aja lo!!!! Ngaku ajakek gitu wkwk gemes. Pas dia sok sedih dan nangis - nangis sok desperate minta dikasihani karena ketauan kalo selama ini malsuin berita is soooooooooooooo nyebelin haha. Pingin gua jitak palanya. 

But after all, gue sangat menikmati film ini. Pertama kalinya gue nonton film tentang jurnalisme ya ini wkwkwk. Meskipun kesannya lama dan durasinya agak panjang, tapi gue sama sekali nggak bosen nontonnya. Gue suka cara bercerita film ini dari sudut pandang Glass pada awalnya. Yeaaa, Glass dengan cara bercerita yang menyenangkan. Mengalir aja gitu jadinya gabosen. Meskipun ada beberapa hal yang ngebosenin sih, tapi nggak parah - parah banget.

I think I should watch another movie about Journalism again haha! Asal abis itu jangan disuruh bikin analisisnya dan ngaitin dengan Kode Etik ajasih......wkwk :p

You Might Also Like

0 comments