True Love Never Dies

Rabu, Mei 26, 2010








"Dia teman main kelereng kakak saya." Kalimat itu pernah terucap dari mulut almarhumah Hasri Ainun Besari Habibie. Kisah cintanya dengan B.J Habibie ternyata dimulai sejak semasa kecilnya.

Penulis Biografi Habibie, Makmur Makka menuturkan, Ainun Habibie pernah mengaku kalau ia dan Habibie sudah kenal sejak kecil, bahkan sekolah mereka berdekatan.
"Kami kenal sejak kecil, dia teman bermain kelereng kaka saya. Rumah kami berdekatan ketika di Bandung. Di SLTP letak sekolah kami bersebelahan. Di SLTA malah satu sekolah, hanya Rudy (panggilan Habibie) satu kelas lebih tinggi. Dia selalu menjadi siswa paling kecil dan paling muda di kelas, begitu juga saya. Guru dan teman-teman acap kali berkelakar menjodoh-jodohkan kami. Yah, gadis mana yang suka diperolok demikian?" Kalimat itulah yang pernah diucapkan Ainun saat menceritakan kisah cintanya dengan mantan Presiden RI ke-3 itu. Ia mengaku, memiliki banyak kesamaan dengan Habibie sehingga keduanya sering dijodoh-jodohkan. Kesamaan itu antara lain, keduanya sama-sama anak ke empat dari delapan bersaudara dan sama-sama dibesarkan dalam keluarga yang berpendidikan. Selain itu keduanya juga menjadi anak-anak yang beruntung karena memiliki ibu yang mendorong mereka untuk mengutamakan pendidikan. Kesamaan lain adalah, mereka sama-sama tinggal di Bandung dan sekolah di tempat yang sama.

Ainun adalah seorang gadis yang sangat suka berenang. Karena terlalu banyak dan sering berenang, kulitnya menjadi lebih hitam. Pada suatu hari saat jam istirahat belajar, Habibie lewat di depannya.

Saat itu Habibie mengatakan, "Hei, kamu sekarang kok hitam dan gemuk?" Ungkapan ini menjadikan Ainun berpikir dan merasakan sebuah getaran aneh di dalam dadanya. "Apakah Habibie perhatian padaku?" pikir Ainun saat itu. Apalagi teman-temannya heran dengan kejadian itu dan mengatakan kalau Habibie memang perhatian padanya.

Memang, saat itu Ainun menjadi pujaan di sekolahnya dan menjadi incaran banyak siswa laki-laki, termasuk Habibie. Habibie pernah mengomentari tentang Ainun dengan ungkapan, "Wah cakep itu anak, Si item gula Jawa".

Keduanya sempat berpisah cukup lama. Setelah lulus SMA, Habibie melanjutkan pendidikannya ke ITB Bandung, namun tidak sempat selesai. Habibie mendapat beasiswa pemerintah Indonesia dan kemudian berangkat ke Jerman Barat, untuk melanjutkan pendidikannya. Ia masuk ke Universitas Technische Hochscheule di kota Achen, Jerman.

Tahun 1960, terhitung Habibie tidak pulang ke Indonesia selama tujuh tahun. Ini membuatnya sangat merindukan Indonesia, terutama ia sangat ingin mengunjungi pusara Ayahnya.

Setelah menanti lama, akhirnya Habibie punya kesempatan pulang ke Indonesia. Saat Habibie pulang, ia berkesempatan menziarahi makam Ayahnya di Ujung Pandang. Menjelang lebaran, ia pulang ke Bandung dan bertamu ke rumah tetangganya yang lama, keluarga Ainun.

Saat itu pula Ainun secara kebetulan sedang mengambil cuti dari tempatnya bekerja sebagai dokter di RSCM dan pulang ke Bandung. Di sanalah cinta lama bersemi kembali setelah sekian lama mereka tidak bersua.

Saat berjumpa tersebut Habibie mengatakan, "Kok gula Jawa sekarang sudah menjadi gula pasir?". Pertemuan mereka berlanjut di Jakarta. Habibie mengikuti Ainun yang kembali ke Jakarta untuk masuk kerja di RSCM. Di Jakarta Habibie tinggal di Jl. Mendut, rumah kakaknya yang tertua.

Sama-sama tinggal di Jakarta membuat cinta mereka semakin bersemi. Mereka saling berjanji untuk sering bertemu dan merindukan satu sama lain. Malam hari mereka pacaran dan melewati waktu dengan sangat indah. Sesekali mereka naik becak dengan jok tertutup, meskipun sebenarnya tidak hujan. Dan ketika mereka semakin dekat, Habibie menguatkan hati untuk mejatuhkan pilihannya pada Ainun. Ia melamar Ainun dan mempersunting menjadi istrinya.

Ainun disuntiung Habibie menjadi istri pada 12 Mei 1962. Mereka menghabiskan bulan madu di empat tempat. Kaliurang, Yogyakarta, dilanjutkan ke Bali lalu diakhiri di Ujung Pandang, daerah asal Habibie. Dari pernikahan ini, keduanya dikaruniai dua orang putra; llham Akbar dan Thareq Kemal dan enam orang cucu.

Setelah menikah, Ainun ikut dengan Habibie yang harus menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Jerman. Kehidupan awal di sana dilalui dengan perjuangan yang luar biasa. Setidaknya ia harus bersabar dengan pendapatan yang teramat kecil dari beasiswa Habibie.

Namun dengan tekun dan sabar ia tetap menyertai Habibie. Bahkan untuk menghemat ia menjahit sendiri keperluan pakaian bayi yang dikandungnya. Dan di sanalah ia mengandung dua putranya, melahirkan dan mebesarkannya.

Ainun adalah seorang ibu yang sangat bertanggung jawab dalam mebesarkan anak-anaknya. Sejak kecil ia membiasakan anak untuk mengembangkan kepribadiannya sendiri. Ia membebaskan anak-anak untuk berani bertanya tentang hal yang tidak diketahuinya. Dan Ainun akan memberikan jawaban jika ia mampu atau ia akan meminta Habibie jika tidak mampu. Hal ini tentu saja karena ia sadar kalau anak-anak sejak kecil harus dibangun keingintahuan dan kreatifitasnya.

Selain itu Ainun juga membiasakan anaknya hidup sederhana. Uang jajan diberikan pas untuk satu minggu. Dengan demikian si anak memiliki kebebasan untuk memilih jajanan yang mereka sukai. Anak-anak Ainun tumbuh sebagai anak yang menghargai kesederhanaan itu. Pernah mereka harus bolak-balik dari satu toko ke toko lain untuk mendapatkan harga yang pas sebelum membeli suatu barang.

Hal yang juga tidak kalah penting dalam mendidik anak adalah membiasakan mereka mengemukakan pendapat dengan mengajak mereka berdiskusi di rumah. Menurut Ainun, jika anak-anak berani mengeluarkan pendapat, artinya mereka sedang belajar dalam hidupnya. Dan bagi orang tua, itulah saatnya melaksanakan kewajiban memberikan bekal bagi kehidupan mereka.

Dan benar saja, hasil didikan itu menjadikan kedua anak mereka tumbuh sebagai seorang yang luar biasa. Seperti kita tahu bahwa Ilham Habibie menyelesaikan pendidikan di Muenchen dalam ilmu aeronautika dan meraih gelar PdD dengan predikat summa cumlaude, lebih tinggi dari predikat ayahnya. Sementara Thareq Kemal menyelesaikan Diploma Inggeneur di Braunsweig, Jerman.

Pada 24 Maret 2010, Hasri Ainun Habibie masuk ke rumah sakit Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Gro'hadern, Munchen, Jerman karena ada tumor di paru-parunya. Selama dirawat, Ainun berada di bawah pengawasan direktur Rumah Sakit Prof Dr Gerhard Steinbeck, yang juga spesialis penyakit jantung.

Ainun telah menjalani 12 kali operasi dan empat dari 12 operasi tersebut merupakan operasi utama. Sisanya, merupakan operasi eksplorasi. Namun, kabar duka itu akhirnya tiba.

Tepat pukul 17.05 waktu Jerman, Sabtu, 22 Mei 2010, Ainun wafat dalam usia 72 tahun. Sebelum wafat, Ainun sempat beberapa kali mengalami kritis, namun jiwanya tidak terselamatkan lagi.

Ainun Habibie dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah, 11 Agustus 1937 sebagai anak keempat dari delapan bersaudara pasangan Mohammad Besari dan Hajjah Sadarmi. Ainun pernah mendapatkan gelar dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1961.

Nama Hasri Ainun yang diberikan keluarganya mempunyai arti mata yang indah. Semasa hidupnya, Ainun memiliki jiwa sosial tinggi, terutama dengan dibentuknya yayasan beasiswa ORBIT dan Bank Mata untuk penyantun Mata Tunanetra.

Kini, jenazah Ainun Habibie telah dikebumikan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata. Upacara pemakaman dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam sambutannya, Presiden mengatakan, almarhumah Hasri Ainun adalah seorang Ibu Negara yang penuh kasih, pejuang kemanusiaan yang tulus, serta ibu dari sebuah keluarga panutan.




"Ainun,saya sangat mencintaimu tetapi ALLAH lebih mencintaimu sehingga saya rela melepaskanmu pergi" -BJ Habibie


source : jawaban.com


You Might Also Like

0 comments